Repelita Jakarta - Ketegangan geopolitik global semakin memuncak setelah perang antara Iran melawan pasukan gabungan Israel serta Amerika Serikat terus mengalami eskalasi sejak akhir Februari dua ribu dua puluh enam.
Konflik yang telah berlangsung beberapa hari tersebut kini memicu reaksi tegas dari sejumlah kekuatan besar dunia termasuk China Rusia serta Korea Utara.
Presiden China Xi Jinping mengeluarkan pernyataan keras yang langsung menjadi sorotan internasional dengan memerintahkan militer negaranya meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik besar di tengah dinamika global yang berubah sangat cepat.
Sebagaimana dikutip dari media China Army pada Jumat enam Maret dua ribu dua puluh enam Xi Jinping mendesak Tentara Pembebasan Rakyat China untuk bersiap berperang melawan Barat yang sedang mengalami kemunduran.
Pernyataan tersebut muncul ketika perang Iran melawan pasukan gabungan Israel dan Amerika Serikat semakin intens sehingga banyak pengamat menilai situasi ini sebagai salah satu ketegangan geopolitik paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.
Selain China Korea Utara serta Rusia juga mulai menunjukkan sikap tegas yang memperlihatkan potensi terbentuknya blok politik baru di tengah konflik tersebut.
Korea Utara menyatakan dukungan terbuka terhadap Iran dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel dengan menyatakan akan bergabung dalam perang melawan kedua negara tersebut.
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika diplomatik melainkan disertai aksi nyata di lapangan sehingga Pyongyang tidak hanya memberikan dukungan secara simbolis.
Kim Jong Un bahkan melontarkan pernyataan provokatif dengan mengatakan bahwa entitas Zionis akan lenyap ketika waktunya tiba sebagaimana dikutip dari Iran Army pada Kamis lima Maret dua ribu dua puluh enam.
Sebagai bagian dari sinyal politiknya Korea Utara juga memperlihatkan kemampuan militernya melalui uji peluncuran tiga rudal balistik antarbenua nuklir Hwasong dua puluh di tengah hujan deras.
Langkah tersebut dipandang sebagai pesan keras kepada negara-negara Barat bahwa Pyongyang memiliki kemampuan militer yang siap digunakan jika konflik global semakin meluas.
Rusia juga mengambil sikap tegas di mana Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menyatakan bahwa pihaknya akan memastikan invasi Amerika Serikat serta Zionis Israel terhadap Iran akan dihentikan.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika perang telah memasuki hari keenam sejak serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada tanggal dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam.
Rusia dan negara-negara pencinta damai lainnya akan melakukan segala upaya untuk menciptakan suasana di mana operasi AS dan Israel terhadap Iran menjadi mustahil.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan menghentikan pasokan gas ke negara-negara Eropa yang mendukung Amerika Serikat dalam menyerang Iran.
Ancaman tersebut berpotensi menimbulkan dampak besar bagi ekonomi Eropa mengingat banyak negara di kawasan tersebut masih bergantung pada pasokan energi dari Rusia.
Sekarang pasar lain sedang terbuka. Mungkin akan lebih menguntungkan bagi kami untuk berhenti memasok ke pasar Eropa. Kami bisa beralih ke pasar yang sedang terbuka dan memantapkan diri di sana.
Dengan semakin banyaknya kekuatan besar yang menyatakan sikap secara terbuka risiko terbentuknya blok-blok geopolitik baru semakin besar sehingga konflik Iran kini bukan lagi sekadar perang regional melainkan bagian dari persaingan kekuatan besar dunia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

