Repelita Teheran - Perang antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat serta Israel terus memanas dengan saling balas serangan yang kini menyasar infrastruktur energi vital kedua belah pihak.
Pada Sabtu malam 7 Maret 2026 pesawat tempur Israel melancarkan serangan ke depot penyimpanan minyak serta fasilitas penyulingan di Teheran untuk pertama kalinya sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026.
Penyiaran publik Israel KAN mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menargetkan instalasi minyak Teheran sebagai bagian dari gelombang baru operasi militer.
Agensi semi-resmi Iran Mehr News melaporkan ledakan keras di Teheran akibat serangan tersebut sementara Perusahaan Nasional Penyulingan dan Distribusi Minyak Iran membenarkan sejumlah depot di provinsi Teheran serta Alborz terbakar hebat.
Tim pemadam kebakaran dikerahkan secara besar-besaran untuk mengendalikan api yang mengancam pasokan energi domestik Iran.
Sebagai respons langsung Korps Garda Revolusi Islam Iran menghantam kilang minyak Haifa dengan rudal hipersonik Fattah-2 serta Kheibar Shekan sehingga langit Haifa menyala merah disertai bola api raksasa dan asap hitam tebal.
Video yang beredar luas memperlihatkan detik-detik ledakan dahsyat yang mengguncang kota pelabuhan terbesar Israel dengan kilatan cahaya membelah malam.
Kilang Haifa milik Bazan Group yang memasok lima puluh hingga enam puluh persen kebutuhan bahan bakar domestik Israel menjadi sasaran strategis utama serangan balasan Iran.
Serangan ini juga menjadi perhatian India karena kilang tersebut memiliki keterkaitan dengan perusahaan-perusahaan India serta sebelumnya pernah diserang pada Juni 2025.
Eskalasi jual beli serangan ke infrastruktur minyak ini tidak hanya memperluas cakrawala perang melainkan juga mengancam pasokan energi global dengan risiko krisis yang tak terduga.
Iran membuktikan kemampuan teknologi rudal hipersoniknya yang mengubah dinamika konflik sementara Amerika Serikat serta Israel menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas energi kawasan.
Dunia kini berada di ambang krisis energi karena gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk dapat memicu lonjakan harga serta ketidakstabilan ekonomi global.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

