Repelita Teheran - Republik Islam Iran memasuki babak sejarah baru setelah Majelis Pakar secara resmi menetapkan Ayatollah Sayyid Ahmad Alamolhoda sebagai Pemimpin Tertinggi pengganti Ayatollah Sayyid Ali Khamenei yang gugur akibat serangan gabungan Amerika Serikat serta Israel pada 28 Februari 2026.
Keputusan monumental ini diambil oleh Majelis Pakar yang beranggotakan delapan puluh delapan ulama senior dengan kewenangan konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi negara.
Pengumuman resmi pemilihan Sayyid Alamolhoda kini sepenuhnya berada di tangan Sekretariat Majelis Pakar dan akan segera diumumkan kepada publik dalam waktu dekat.
Terpilihnya Ayatollah Sayyid Ahmad Alamolhoda mengejutkan banyak pengamat karena meskipun namanya sempat muncul dalam bursa calon ia bukan figur yang paling sering diberitakan media.
Di tengah perang terbuka melawan Amerika Serikat serta Israel Iran kini dipimpin oleh ulama garis keras yang terkenal dengan retorika anti-Barat dan anti-Israel paling tajam.
Sayyid Ahmad Alamolhoda lahir di Mashhad pada 1 September 1944 dan telah memimpin salat Jumat di kota suci tersebut sejak ditunjuk langsung oleh Khamenei pada 6 April 2005.
Ia menjabat sebagai perwakilan Mashhad di Majelis Pakar sejak 2007 serta menjadi anggota Asosiasi Ulama Pejuang salah satu kelompok konservatif paling berpengaruh di Iran.
Posisinya semakin kokoh karena ia adalah mertua mantan Presiden Ebrahim Raisi yang pernah menjadi kandidat kuat penerus Khamenei sebelum wafat.
Dalam wawancara tahun 2022 Sayyid Alamolhoda menyatakan bahwa dunia pascamodern hanya bisa dipimpin oleh Iran Islam dengan visi dunia yang diperbudak modernitas sedang runtuh.
Pernyataan tersebut mencerminkan ambisi global yang selama ini menjadi inti narasi Revolusi Islam Iran.
Sayyid Alamolhoda dikenal sangat keras terhadap Israel dengan menyatakan pada 2013 bahwa penghancuran Israel adalah fondasi Revolusi Islam di Teheran.
Penghancuran Israel adalah gagasan Revolusi Islam di Teheran dan merupakan salah satu pilar rezim Islam Iran kami tidak dapat mengklaim bahwa kami tidak memiliki niat untuk berperang dengan Israel katanya.
Pada Oktober 2023 ia menegaskan dukungan penuh kepada poros perlawanan dengan menyebut Hizbullah memiliki seratus ribu rudal presisi serta sekutu regional Iran siap menghancurkan Israel.
Ia juga menyebut Israel sebagai sel kanker yang harus dimusnahkan retorika yang sejalan dengan pendiri revolusi Imam Khomeini.
Terhadap Amerika Serikat ia menyatakan pada November 2024 bahwa Iran telah berhasil mengekspor gerakan anti-Americanisme ke seluruh dunia bahkan bergema di dalam Amerika sendiri.
Perlawanan terhadap Amerika Serikat telah berevolusi menjadi fenomena global bahkan bergema di dalam Amerika sendiri pada saat itu banyak kalangan memandang langkah ini sebagai kesalahan besar namun saat ini kami diakui sebagai kekuatan regional yang tangguh katanya.
Di dalam negeri Sayyid Alamolhoda dikenal dengan pandangan konservatif ekstrem termasuk melarang konser musik di Mashhad karena dianggap hanya untuk ibadah.
Ia juga menentang hak perempuan untuk bersepeda serta masuk stadion sepak bola dengan alasan menjaga nilai-nilai keagamaan.
Pada Maret 2024 setelah pemilu dengan partisipasi terendah dalam sejarah Iran ia menyatakan bahwa mayoritas yang tidak memilih tidak berarti dalam Islam.
Dalam Islam mayoritas tidak otomatis diterima yang dimaksud dengan mayoritas adalah mayoritas yang religius dan patuh bukan mayoritas yang durhaka dan memberontak katanya.
Pemilihan Sayyid Alamolhoda berlangsung di tengah perang terbuka dengan serangan balasan Iran melalui Operasi Janji Sejati 4 yang terus menghantam pangkalan musuh.
Anggota Majelis Pakar Ali Moalemi menegaskan bahwa para anggota bersumpah mengesampingkan preferensi pribadi dan memilih berdasarkan prinsip agama.
Keputusan ini menunjukkan konsolidasi kekuasaan faksi garis keras yang didukung hubungan erat Sayyid Alamolhoda dengan IRGC serta milisi Basij.
Belum ada respons resmi dari Israel maupun Amerika Serikat namun Menteri Pertahanan Israel sebelumnya mengancam penerus Khamenei akan menjadi target eliminasi.
Jika ancaman tersebut terwujud Sayyid Alamolhoda menghadapi risiko pembunuhan sejak hari pertama menjabat menjadikannya pemimpin dengan tugas paling berbahaya di dunia.
Sayyid Alamolhoda mewarisi Iran yang sedang berperang dengan lebih dari dua ribu personel Amerika Serikat serta Israel tewas atau terluka akibat serangan balasan Iran.
NATO mulai retak dengan Inggris serta Spanyol menolak membantu Amerika Serikat sementara ekonomi Iran tertekan berat akibat sanksi dan perang.
Tantangan terbesar Sayyid Alamolhoda adalah memimpin perang menjaga stabilitas internal mengelola ekonomi tercekik menghadapi ancaman pembunuhan serta mempertahankan poros perlawanan di Yaman Irak Suriah dan Lebanon.
Terpilihnya Ayatollah Sayyid Ahmad Alamolhoda menandai era baru konfrontasi total dengan Amerika Serikat serta Israel di bawah kepemimpinan ulama garis keras yang mengendalikan militer politik dan agama Iran.
Publik dunia menanti langkah pertama pemimpin baru ini apakah akan mempertajam serangan atau mengambil pendekatan berbeda di tengah perang yang kian sengit.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

