Repelita Jakarta - Konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel yang pecah pada awal Maret 2026 telah memicu lonjakan harga minyak dunia secara dramatis dari sekitar USD80 per barel menjadi USD93 per barel dan berpotensi terus meroket hingga USD100 hingga USD115 per barel apabila pertempuran masih terbatas pada skala saat ini.
Gangguan serius di Selat Hormuz ditambah penghancuran sejumlah kilang minyak membuat durasi konflik semakin panjang sehingga harga minyak diperkirakan bisa mencapai USD120 hingga USD150 per barel sementara jika meluas menjadi perang regional harga berisiko melonjak tajam hingga USD150 hingga USD220 per barel.
Pasar energi internasional kini dipenuhi kecemasan tinggi terhadap kemungkinan perang regional yang dapat memunculkan krisis energi terparah sejak tahun 1973 karena penutupan Selat Hormuz berpotensi menghilangkan pasokan sekitar 20 juta barel per hari atau seperlima dari total minyak dunia yang melewati jalur vital tersebut.
Pemerhati kebijakan publik Syafril Sjofyan menilai situasi ini sangat berbahaya bagi Indonesia mengingat produksi minyak domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari sementara kebutuhan konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari dengan stok cadangan nasional hanya mampu bertahan 20 hingga 25 hari sehingga subsidi BBM berpotensi membengkak hingga Rp200 hingga Rp300 triliun.
Syafril Sjofyan juga menyatakan bahwa prediksi awal Presiden Amerika Donald Trump soal penyerahan Iran dalam empat hari setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei ternyata meleset dan perlawanan Iran justru semakin menguat sehingga estimasi direvisi menjadi 49 hari meskipun realisasinya tetap sulit terwujud.
Perang yang kini menyasar infrastruktur energi secara langsung telah merusak kilang di Iran Arab Saudi beberapa negara lain serta di Israel dengan proses pemulihan fasilitas yang hancur diperkirakan memerlukan waktu 6 hingga 12 bulan sehingga logistik energi global terganggu tidak hanya di Selat Hormuz melainkan juga di Laut Merah Teluk Aden dan Selat Bab el-Mandeb.
Cadangan strategis minyak negara-negara OECD saat ini lebih rendah dibandingkan periode krisis 1990 dan 2008 karena sebagian besar telah terkuras akibat konflik Ukraina sehingga pasokan dunia semakin rentan terhadap guncangan besar.
Menurut Syafril Sjofyan penghancuran ladang minyak Iran akan paling merugikan China sebagai importir utama yang menyerap 80 hingga 90 persen ekspor minyak Iran sekitar 1,2 hingga 1,8 juta barel per hari terutama kilang kecil teapot refineries yang bergantung pada harga diskon USD5 hingga USD10 di bawah pasar internasional.
Kenaikan harga minyak yang ekstrem akan menaikkan biaya produksi manufaktur China membuat barang ekspor menjadi lebih mahal dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi negara tersebut yang sangat bergantung pada industri serta perdagangan global.
Syafril Sjofyan menduga ada strategi geopolitik energi dari Amerika di balik serangan tanpa dasar hukum internasional terhadap Iran yang bertujuan melemahkan ekonomi China melalui penghancuran pasokan serta kilang minyak Iran meskipun hilangnya produksi Iran sekitar 3 hingga 4 juta barel per hari tetap memicu kenaikan harga global secara luas.
Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar melalui shale oil justru diuntungkan oleh harga tinggi begitu pula Rusia Arab Saudi dan Norwegia yang meraup keuntungan besar sementara negara pengimpor berat seperti Jepang Korea Selatan Taiwan India Pakistan Bangladesh Indonesia serta Filipina menghadapi dampak ekonomi paling berat.
Krisis energi 2026 berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah modern akibat tindakan dua pemimpin yang dinilai haus perang sehingga Syafril Sjofyan mendesak Presiden Prabowo Subianto memiliki keberanian keluar dari BoP serta mengajak negara-negara Teluk menekan agar konflik segera dihentikan sebelum janji kampanye hancur dan memicu gejolak sosial akibat kelaparan rakyat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

