Repelita Jakarta - Rusia dan China dikabarkan memberikan dukungan strategis kepada Iran dalam menghadapi agresi militer dari Amerika Serikat serta Israel meskipun keduanya lebih memilih pendekatan hati-hati di belakang layar daripada terlibat langsung dalam pertempuran terbuka.
Dukungan dari Moskow terlihat melalui penyediaan data intelijen real-time berupa lokasi serta pergerakan kapal perang dan pesawat tempur AS di kawasan Timur Tengah yang diperoleh dari satelit canggih Rusia guna membantu Teheran mengidentifikasi sasaran strategis.
Iran juga memanfaatkan Satelit Khayyam buatan Rusia untuk memantau basis militer lawan secara langsung sementara pada awal 2026 Rusia telah mengirimkan jet tempur SU-35 dari pesanan 48 unit serta komponen sistem pertahanan udara S-400 untuk memperkuat pertahanan udara Republik Islam tersebut.
China di sisi lain dilaporkan sedang mempertimbangkan bantuan keuangan serta pasokan suku cadang dan komponen rudal kepada Iran sambil secara terbuka menyatakan solidaritas terhadap langkah Teheran di Selat Hormuz sebagai bentuk perlawanan terhadap operasi militer AS-Israel.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan penolakan terhadap segala upaya perubahan rezim di Teheran serta menyerukan penghentian segera aksi militer terhadap negara tersebut di tengah posisi China sebagai pembeli utama minyak Iran yang membantu menjaga stabilitas ekonomi Teheran di bawah tekanan sanksi.
Kerja sama tersebut semakin diperkuat melalui koordinasi CRINK yang merujuk pada poros China Rusia Iran dan Korea Utara sebagai aliansi strategis anti-Barat yang semakin solid sepanjang tahun 2026.
Pada Januari 2025 Rusia dan Iran telah menandatangani perjanjian kemitraan baru yang memperdalam kolaborasi militer serta ekonomi secara permanen termasuk berbagai kesepakatan penting yang disepakati pada Desember 2025.
Meskipun memberikan bantuan intelijen teknologi dan komponen militer Rusia serta China secara tegas menahan diri dari keterlibatan militer langsung guna menghindari konfrontasi terbuka dengan Amerika Serikat yang dapat menimbulkan kerugian politik dan geopolitik besar.
Pakar geopolitik Raymond Sihombing menyatakan Saya pikir Rusia tidak ingin terlibat secara langsung Ini yang perlu digaris bawahi karena Rusia paham betul hitung-hitungannya secara politik maupun secara geopolitik bahwa ini akan sangat merugikan baik Rusia maupun juga Iran.
Ia menambahkan bahwa Iran memiliki kebanggaan nasional tersendiri dalam melawan AS dan Israel sehingga dukungan yang diberikan lebih bersifat pendukung daripada pengganti peran utama Teheran di medan konflik.
Pembicaraan telepon antara Presiden Rusia dan Presiden Iran pada 6 Maret 2026 turut membahas berbagai saluran bantuan yang menunjukkan bahwa dukungan tetap mengalir meskipun tidak secara militer terbuka.
Selain itu latihan militer gabungan Maritim Security Bell 2026 pada pertengahan Februari lalu melibatkan Rusia dan China dalam memberikan bantuan teknis untuk melindungi jalur perdagangan di Selat Hormuz dari ancaman serangan AS-Israel.
Pendekatan main cantik ini memungkinkan Rusia dan China memperkuat posisi Iran tanpa memicu eskalasi global yang lebih luas sekaligus membangun blok kekuatan yang semakin solid di luar kawasan Timur Tengah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

