Repelita Jakarta - Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel yang telah berlangsung hingga hari kedelapan memunculkan kekhawatiran besar mengenai kemungkinan meluasnya perang menjadi konflik global.
Para analis serta mantan pemimpin dunia menyoroti potensi keterlibatan Rusia China dan Korea Utara di pihak Teheran sebagai faktor pemicu eskalasi.
Ketua Dewan Pakar HIMPUH Alip Setyo Wibowo menyatakan bahwa konflik ini berpotensi berlangsung lama dengan intensitas yang fluktuatif berdasarkan analisis geopolitik.
Peta dukungan global mulai terbentuk dengan Iran kemungkinan mendapat bantuan dari Korea Utara China serta Rusia dalam berbagai bentuk.
Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono menekankan bahaya serius jika negara-negara NATO terlibat karena dapat memicu respons dari kekuatan besar lain.
Ia menyatakan bahwa keterlibatan Rusia China serta Korea Utara akan membuat situasi jauh lebih berbahaya dan berharap hal itu tidak terjadi.
Korea Utara menunjukkan sikap paling agresif dengan pernyataan provokatif dari Pemimpin Kim Jong-un yang menyebut entitas Zionis akan lenyap pada waktunya.
Kim Jong-un bahkan menawarkan rudal nuklir ke Iran dengan klaim bahwa satu rudal saja cukup untuk menghancurkan Israel.
Pyongyang meluncurkan tiga rudal balistik antarbenua Hwasong-20 serta menguji rudal jelajah nuklir dari kapal perusak terbaru Choi Hyon.
Analis militer Paul Ingram mencatat bahwa Kim semakin percaya diri setelah hubungan erat dengan Rusia termasuk pasokan amunisi untuk konflik Ukraina.
Rusia mengambil sikap hati-hati namun tegas dengan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menyatakan akan menghentikan invasi AS serta Israel ke Iran.
Lavrov menegaskan bahwa Rusia bersama negara pencinta damai akan berupaya menciptakan kondisi di mana operasi tersebut menjadi mustahil.
Ia mengkhawatirkan keterlibatan NATO yang disebut sedang ditarik ke dalam perang oleh AS serta Israel.
Presiden Vladimir Putin mengancam menghentikan pasokan gas ke negara Eropa pendukung AS sebagai senjata ekonomi yang dapat melumpuhkan kawasan dalam waktu singkat.
China mengambil pendekatan paling hati-hati dengan menjaga kerja sama militer dengan Iran dalam batasan yang jelas.
Peneliti Jodie Wen menyatakan bahwa China tidak akan mengirim senjata ke Iran karena prinsip tidak ikut campur urusan negara lain.
Namun stabilitas Selat Hormuz tetap menjadi prioritas Beijing sebagai importir minyak terbesar dunia.
Negara-negara Arab Teluk berada dalam posisi sulit karena merasa dibiarkan menghadapi serangan balasan Iran tanpa bantuan memadai dari AS.
Pejabat dari dua negara Teluk menyatakan kekecewaan karena tidak diberi pemberitahuan sebelum serangan AS-Israel dan dampaknya menghancurkan kawasan.
Mereka mengeluhkan bahwa fokus operasi lebih pada membela Israel serta pasukan AS sementara negara Teluk dibiarkan melindungi diri sendiri.
Arab Saudi UEA Kuwait serta Qatar membahas penarikan diri dari kontrak investasi dengan AS untuk mengurangi tekanan ekonomi akibat perang.
Hasan Alhasan menilai serangan Iran ke negara Teluk membawa pesan bahwa tidak ada pihak yang aman dan mediasi tidak memberikan perlindungan.
Jika Rusia China serta Korea Utara bergabung dengan Iran dampaknya akan bersifat global termasuk krisis energi dengan harga minyak berpotensi mencapai seratus lima puluh dolar per barel.
Sanksi ekonomi total dari Barat dapat memicu fragmentasi ekonomi dunia sementara perang proksi muncul di berbagai kawasan.
Risiko penggunaan senjata nuklir meningkat signifikan dengan keterlibatan negara pemilik nuklir serta ancaman inflasi serta krisis pangan global.
Laporan World Population Review 2026 mencatat dua puluh dua negara berisiko tinggi terlibat jika Perang Dunia III meletus termasuk Iran AS Israel Rusia China serta Korea Utara.
Indonesia berada dalam kategori risiko sedang dengan skor Global Firepower Index nol koma dua ratus lima puluh enam.
Susilo Bambang Yudhoyono berharap adanya deeskalasi serta pengendalian diri agar situasi tidak semakin memburuk.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyatakan bahwa pintu diplomasi masih terbuka meskipun perang sedang berlangsung.
Perundingan di Geneva sebelumnya mencapai kemajuan nyata dan harapan perdamaian tidak boleh padam meskipun konflik terjadi.
Dunia kini berada di persimpangan berbahaya dengan retorika memanas ancaman nuklir serta frustrasi negara Arab terhadap AS.
Pertanyaan utama tetap apakah diplomasi mampu mencegah skenario terburuk sebelum terlambat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

