Repelita Jakarta - Konflik antara Iran dengan pasukan gabungan Amerika Serikat serta Israel kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.
Pernyataan Trump yang disampaikan melalui Truth Social pada Selasa 3 Maret 2026 itu langsung memicu respons tajam dari Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Juru bicara IRGC menyambut baik niat Amerika untuk mengawal tanker dan menantang agar segera dilaksanakan sambil menyatakan mari kita lihat apa yang terjadi.
Tantangan tersebut tidak lepas dari kendali penuh Iran atas Selat Hormuz yang menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pejabat Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh menegaskan bahwa selat strategis itu sepenuhnya berada di bawah pengawasan Angkatan Laut Republik Islam.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026 Teheran secara efektif menutup akses bagi kapal berafiliasi dengan musuh.
Data Clarksons Research mencatat sekitar tiga ribu dua ratus kapal atau empat persen tonase global menganggur di Teluk akibat penutupan tersebut.
Sekitar lima ratus kapal menunggu di luar Teluk di pelabuhan lepas pantai UEA serta Oman tanpa bisa melintas.
Hanya satu kapal tanker Pola yang berhasil melintasi selat secara langka menuju UEA untuk memuat minyak mentah.
Kapal itu mematikan pelacak AIS saat mendekati selat dan baru terdeteksi kembali di lepas Abu Dhabi keesokan harinya.
Trump menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal tanker sesegera mungkin untuk menjamin aliran energi bebas ke dunia.
Ia menulis bahwa kekuatan ekonomi dan militer Amerika Serikat adalah yang terbesar di bumi dengan tindakan lebih lanjut akan menyusul.
Pernyataan itu muncul saat harga minyak Brent melonjak melebihi delapan puluh dua dolar AS per barel naik lebih dari tiga belas persen sejak konflik dimulai.
Selat Hormuz telah lama menjadi titik panas antara Iran dan Amerika Serikat dengan sejarah ketegangan berkepanjangan.
Pada awal Februari pesawat F-35C AS menembak jatuh drone Shahed-139 Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab.
CENTCOM menyatakan drone tersebut terus mendekat meskipun telah dilakukan upaya de-eskalasi oleh pasukan AS.
Beberapa jam sebelumnya pasukan Iran dilaporkan melecehkan kapal dagang Stena Imperative di Selat Hormuz dengan ancaman penyitaan.
Kapal perusak USS McFaul merespons dan mengawal kapal tersebut setelah dua kapal serta satu drone Mohajer mendekat dengan kecepatan tinggi.
Penutupan efektif selat memicu kekhawatiran global termasuk permintaan Pakistan kepada Arab Saudi untuk menyalurkan minyak melalui Yanbu di Laut Merah.
Menteri Perminyakan Pakistan Ali Pervaiz Malik menyatakan pemerintah memantau situasi untuk menjamin kelangsungan pasokan energi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi terus berkomunikasi dengan Kuwait Qatar Turki serta Oman mengenai stabilitas dan keamanan regional.
Pernyataan Trump bukan yang pertama karena AS telah mengerahkan aset militer besar termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln serta ribuan personel tambahan.
Namun tantangan IRGC menunjukkan Teheran tidak gentar dengan ancaman konfrontasi langsung di selat strategis tersebut.
Penasihat Keamanan Tertinggi Iran Ali Shamkhani menyatakan Teheran telah mempersiapkan respons pencegahan yang efektif tanpa batas geografi.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia sebagai titik tersedak minyak terpenting di dunia menurut pemerintah AS.
Selama Perang Iran-Irak tahun 1980-an kedua pihak menargetkan kapal dagang dalam Perang Tanker yang kini berpotensi terulang dalam skala lebih besar.
Tantangan IRGC kepada Trump merupakan undangan sekaligus peringatan atas konfrontasi langsung di jalur air tersibuk dunia.
Bagi Iran ini menyangkut kedaulatan dan martabat sementara bagi AS menjadi ujian kekuatan militer terbesar di bumi.
Bagi dunia ancaman terhadap pasokan energi global dapat memicu resesi ekonomi yang lebih dalam.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

