Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Klaim Trump soal Iran “Menyerah” Dipertanyakan

 

Repelita Washington - Klaim mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Iran telah menyerah kepada negara-negara tetangganya menuai pertanyaan besar dari berbagai kalangan pengamat geopolitik.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan di platform Truth Social dan segera memicu perdebatan mengenai akurasinya di tengah konflik yang masih berlangsung sengit di Timur Tengah.

Trump menyebut Iran sebagai pecundang utama di kawasan serta mengklaim negara itu sudah meminta maaf dan tidak lagi menjadi ancaman setelah serangan dari Amerika Serikat dan Israel.

Ia juga mengancam akan memberikan pukulan sangat keras jika situasi memerlukan langkah lebih lanjut termasuk perluasan target serangan.

Emaridial Ulza akademisi hubungan internasional dari Uhamka menilai pernyataan itu lebih merupakan retorika politik daripada cerminan kondisi sebenarnya di lapangan.

Menurutnya Donald Trump kerap memanfaatkan narasi kemenangan sebagai strategi awal untuk menekan lawan secara psikologis.

Emaridial Ulza menyatakan Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis.

Ia menambahkan bahwa deklarasi semacam itu tidak mencerminkan kompleksitas pertempuran yang sedang terjadi di medan konflik.

Narasi kemenangan sepihak sering digunakan sebagai alat komunikasi politik untuk membentuk persepsi publik dan memperkuat posisi dalam negosiasi.

Pola pendekatan ini bukan hal baru dan pernah terlihat dalam berbagai isu seperti perundingan dagang dengan Tiongkok krisis Korea Utara serta konflik-konflik lain di kawasan Timur Tengah.

Emaridial menilai klaim bahwa Iran telah menyerah kemungkinan besar hanya framing untuk keperluan domestik di Amerika Serikat guna membangun citra keberhasilan.

Deklarasi kemenangan melalui media sosial tidak sama dengan perdamaian sejati dan dalam banyak kasus sejarah justru berpotensi memperpanjang siklus eskalasi konflik.

Beberapa sekutu Amerika Serikat seperti Inggris Spanyol dan Jerman tidak terlibat langsung dalam konflik saat ini yang mengindikasikan kemungkinan Washington membutuhkan jalur diplomasi.

Situasi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan untuk meredakan ketegangan melalui perundingan daripada eskalasi militer lebih lanjut.

Emaridial menyoroti bahwa negara seperti Indonesia memiliki posisi strategis untuk berperan sebagai penengah melalui forum seperti Organisasi Kerja Sama Islam.

Keanggotaan Indonesia di BRICS serta keterlibatan dalam Board of Peace yang dibentuk Trump memberikan peluang untuk mendorong dialog antarpihak.

Langkah diplomasi Indonesia diyakini dapat membantu menurunkan suhu konflik meskipun pengaruhnya mungkin tidak langsung mengubah dinamika utama di lapangan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved