Repelita Teheran - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei membuka pertanyaan besar tentang masa depan program nuklir Teheran yang selama ini diklaim berada di jalur damai.
Selama lebih dari dua dekade kebijakan nuklir Iran berpijak pada fatwa tegas yang dikeluarkan Khamenei pada awal tahun dua ribu yang melarang pengembangan serta penggunaan senjata pemusnah massal.
Fatwa tersebut bukan sekadar pernyataan politik melainkan landasan moral dan religius yang menjadi tameng diplomatik Teheran di tengah tekanan berkepanjangan dari Barat.
Kini dengan kekosongan kepemimpinan tertinggi persamaan geopolitik kawasan berpotensi berubah drastis dalam waktu sangat singkat.
Penerus Khamenei belum tentu memiliki otoritas spiritual yang setara sehingga pandangan terhadap doktrin pertahanan negara bisa berbeda signifikan.
Analis Timur Tengah Sulaiman Al Fahd seperti dikutip dari X pada Minggu tanggal satu Maret dua ribu dua puluh enam menulis apakah kita menunggu program nuklir Iran beralih dari penggunaan damai ke penggunaan militer.
Pertanyaan tersebut kini bergema di koridor kekuasaan Eropa Washington serta negara-negara Teluk.
Teknologi pengayaan uranium telah dikuasai Iran dengan tingkat pengayaan mendekati level senjata yaitu sembilan puluh persen.
Jika fatwa dicabut atau diabaikan tidak ada lagi hambatan teologis yang berarti bagi Teheran untuk melangkah lebih jauh.
Di dalam negeri dua kubu besar tengah bertarung memperebutkan pengaruh atas arah kebijakan nuklir.
Para pragmatis ingin tetap membuka dialog dengan dunia untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menghindari isolasi total.
Sementara garis keras memandang senjata nuklir sebagai satu-satunya jaminan keamanan di tengah lingkungan yang semakin bermusuhan.
Kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk dukungan Barat terhadap Israel serta kegagalan JCPOA memberi amunisi bagi mereka yang menginginkan kemandirian penuh.
Peringatan Presiden Rusia Vladimir Putin kepada mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sekitar sebulan sebelum insiden semakin relevan.
Putin disebut memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan membayar harga mahal jika memaksa perubahan program nuklir Iran dari damai menjadi militer.
Peringatan tersebut kini terasa seperti ramalan yang tinggal menunggu waktu setelah kekosongan kepemimpinan tercipta.
Tekanan eksternal dikombinasikan dengan kekosongan internal menjadi resep sempurna bagi perubahan doktrin yang radikal.
Negara-negara Teluk serta Israel pasti akan menggunakan segala pengaruh diplomatik dan intelijen untuk mencegah Iran menjadi negara nuklir militer.
Namun efektivitas tekanan tersebut dipertanyakan karena bisa menjadi bumerang seperti yang pernah diperingatkan Putin.
Selama Khamenei hidup ada titik tetap dalam kebijakan nuklir yaitu fatwa anti-nuklir yang kuat.
Kini titik tetap itu hilang sehingga hari-hari mendatang menyimpan banyak kejutan yang sulit diprediksi.
Kejutan terbesar mungkin berupa pengumuman resmi perubahan doktrin nuklir atau justru penguatan fatwa untuk meredam kekhawatiran global.
Dunia internasional kini memasuki fase menunggu dengan taruhan tertinggi di mana setiap pernyataan manuver militer serta resolusi Dewan Keamanan PBB akan diawasi ketat.
Pilihan Teheran dalam beberapa hari ke depan akan menentukan nasib program nuklir serta arsitektur keamanan kawasan untuk generasi mendatang.
Timur Tengah sedang berada di persimpangan bersejarah antara kepastian masa lalu dan ketidakpastian masa depan yang penuh risiko.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

