Repelita Jakarta - Israel dan Amerika Serikat menghadapi ancaman serius berupa penipisan stok rudal pencegat di tengah gelombang serangan rudal berkelanjutan dari Iran.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa cadangan rudal pertahanan udara kedua negara berpotensi habis dalam hitungan hari jika intensitas serangan Teheran tetap tinggi.
Bloomberg melaporkan bahwa konsumsi rudal pencegat jauh melebihi kemampuan produksi baru sehingga menciptakan ketidakseimbangan kritis dalam sistem pertahanan.
Kelly Grico dari Stimson Center menyatakan bahwa Amerika Serikat menggunakan rudal pencegat lebih cepat daripada kemampuan produksinya.
Situasi ini diperparah oleh pertempuran sengit tahun lalu yang telah menguras persediaan secara signifikan.
Sistem pertahanan berlapis Israel seperti Iron Dome, David's Sling, dan Arrow kini berada di bawah tekanan berat akibat pemakaian berulang.
Negara-negara Teluk Persia juga terdampak karena mengandalkan stok pencegat yang sama untuk melindungi infrastruktur vital mereka.
Produksi rudal pencegat memerlukan waktu panjang termasuk rantai pasok stabil dan pengujian ketat sehingga tidak bisa ditingkatkan secara instan.
Di saat yang sama Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim berhasil melancarkan serangan rudal ke Uni Emirat Arab.
Serangan tersebut dilaporkan menghantam kediaman personel CIA dan menewaskan enam perwira senior serta melukai dua lainnya menurut kantor berita Tasnim pada Senin, 2 Maret 2026.
Klaim ini menandakan perluasan medan konflik ke wilayah sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Jika stok rudal pencegat benar-benar menipis maka celah pertahanan akan terbuka lebar memungkinkan rudal dan drone Iran mencapai target dengan lebih mudah.
Kondisi ini memaksa Israel dan Amerika Serikat menghadapi pilihan sulit antara mempertahankan intersepsi tinggi atau menghemat cadangan untuk ancaman mendatang.
Analis memperingatkan bahwa kehabisan amunisi pertahanan dapat mengubah dinamika konflik secara drastis dan meningkatkan risiko bagi kawasan secara keseluruhan.
Perkembangan selanjutnya bergantung pada kemampuan kedua pihak dalam mengelola logistik serta respons strategis terhadap eskalasi yang terus berlangsung.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

