Repelita Jakarta - Iran segera melancarkan serangan balasan atas aksi militer terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada Sabtu dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam sehingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat keamanan senior.
Serangan pembalasan Teheran menyasar langsung wilayah Israel serta berbagai aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah termasuk Qatar Uni Emirat Arab Kuwait Bahrain Yordania Arab Saudi Irak dan Oman.
Menurut pembaruan dari Al Jazeera tiga prajurit Amerika Serikat tewas dan lima lainnya mengalami luka parah akibat serangan Iran di berbagai titik kawasan tersebut sebagaimana dilaporkan Komando Pusat Amerika Serikat Centcom.
Serangan rudal Iran juga menghantam kota Beit Shemesh di Israel sehingga menyebabkan setidaknya sembilan warga tewas dalam insiden tersebut pada Minggu satu Maret dua ribu dua puluh enam.
Aksi balasan ini mengabaikan peringatan keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan membalas dengan kekuatan belum pernah terlihat sebelumnya jika Iran melakukan serangan keras.
Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan telah melancarkan serangan terhadap dua puluh tujuh pangkalan yang menampung pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah serta fasilitas militer Israel di Tel Aviv sebagai bentuk dendam.
Ledakan terus terdengar di Qatar dan Uni Emirat Arab sehingga memperlihatkan betapa luasnya dampak serangan balasan yang membuat kawasan Teluk semakin membara.
Media pemerintah Iran melaporkan setidaknya dua ratus satu orang tewas akibat serangan di dua puluh empat provinsi wilayahnya.
Dalam operasi pembalasan ini Iran untuk pertama kalinya mengerahkan rudal balistik hipersonik Fatah-2 yang merupakan generasi kedua dari rudal hipersonik Fatah.
Rudal Fatah-2 memiliki jangkauan hingga seribu empat ratus kilometer serta mampu mencapai kecepatan Mach lima belas atau lima koma satu kilometer per detik.
Rudal tersebut diluncurkan ke luar atmosfer kemudian menukik dengan kecepatan supersonik ke target sehingga sulit dilacak dan dicegat oleh sistem pertahanan musuh.
Fatah-2 dirancang untuk menembus sistem pertahanan rudal seperti Arrow dengan menggabungkan kecepatan ekstrem dan kemampuan manuver tinggi selama penerbangan.
Tidak seperti rudal balistik konvensional yang mengikuti lintasan melengkung Fatah-2 dapat bermanuver setelah memasuki atmosfer sehingga menimbulkan tantangan besar bagi radar peringatan dini.
Rudal ini dilengkapi hulu ledak glide vehicle yang memungkinkan perubahan arah mendadak serta terbang pada ketinggian lebih rendah dibandingkan rudal konvensional.
Teheran mengklaim Fatah-2 sebagai kemajuan signifikan dalam teknologi rudal yang mampu mengatasi sistem pertahanan canggih lawan dengan efektif.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

