Repelita Teheran - Keputusan Korps Garda Revolusi Islam Iran menutup Selat Hormuz telah menciptakan ancaman serius terhadap pasokan energi global termasuk bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dan gas yang sangat bergantung.
Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari mengonfirmasi penutupan selat tersebut pada Sabtu tanggal dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam sebagai respons langsung terhadap agresi militer yang menimpa wilayah Iran.
Penutupan ini dipicu oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke berbagai target di Iran termasuk ibu kota Teheran yang menimbulkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa sipil.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel serta instalasi militer Amerika di kawasan Timur Tengah sehingga ketegangan semakin memuncak.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilewati sekitar lima belas persen pasokan minyak mentah dunia terutama dari Arab Saudi Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Produksi minyak Iran sendiri mencapai lebih dari tiga juta barel per hari menjadikannya produsen besar keempat dunia yang turut memperparah dampak jika alur ekspor terganggu.
Sekitar dua puluh persen pasokan gas alam cair atau LNG global dari Uni Emirat Arab dan Qatar juga bergantung pada selat tersebut sebagai rute transportasi utama.
Gangguan total di Selat Hormuz berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak dan gas secara drastis di pasar internasional.
Indonesia sebagai negara net importir migas akan langsung merasakan tekanan berat dari kenaikan harga tersebut.
Data Badan Pusat Statistik mencatat impor minyak dan gas bumi Indonesia mencapai tiga puluh enam koma dua tujuh miliar dolar Amerika pada tahun dua ribu dua puluh empat.
Angka tersebut naik dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat tiga puluh lima koma delapan tiga miliar dolar Amerika.
Impor minyak mentah saja bernilai sepuluh koma tiga lima miliar dolar Amerika sementara impor produk minyak seperti bahan bakar minyak mencapai dua puluh lima koma sembilan dua miliar dolar Amerika.
Kenaikan biaya impor migas akan membebani anggaran negara dan berpotensi menekan subsidi BBM serta tarif listrik.
Inflasi domestik dapat melonjak tajam karena biaya transportasi logistik dan produksi barang meningkat signifikan.
Industri manufaktur petrokimia serta sektor transportasi yang bergantung pada BBM akan menghadapi tekanan biaya operasional yang sangat berat.
Dalam skenario terburuk gangguan pasokan berkepanjangan berisiko memicu resesi ekonomi global yang dampaknya akan menjalar ke Indonesia melalui penurunan ekspor dan investasi asing.
Penutupan sekolah-sekolah di Iran dan pengalihan ke pembelajaran daring menunjukkan betapa seriusnya situasi keamanan di negara tersebut akibat serangan berulang.
Perwakilan IRGC menilai Israel telah melakukan kesalahan perhitungan strategis besar dengan memprovokasi respons keras dari Teheran.
Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam posisi rentan karena ketergantungan tinggi pada jalur energi Timur Tengah tanpa alternatif pasokan yang memadai dalam jangka pendek.
Dampak menakutkan bagi perekonomian nasional semakin nyata seiring berlanjutnya eskalasi konflik di kawasan tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

