Repelita Kyiv - Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik di Ukraina semakin intensif dengan target utama mencapai kesepakatan damai pada Juni 2026 yang didorong kuat oleh pemerintahan Amerika Serikat.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa Washington secara aktif mendorong penyelesaian konflik pada bulan tersebut yang diyakini terkait erat dengan dinamika politik domestik Amerika menjelang pemilihan paruh waktu musim gugur 2026.
Untuk mewujudkan tenggat ambisius itu babak negosiasi baru telah dijadwalkan minggu depan di Miami Amerika Serikat dengan mengundang delegasi dari Kiev dan Moskow.
Ukraina telah mengonfirmasi keikutsertaannya dalam pertemuan tersebut sementara Kremlin melalui juru bicaranya Dmitry Peskov masih menunjukkan sikap hati-hati tanpa konfirmasi penuh.
Pertemuan di Miami dibangun atas dua putaran pembicaraan sebelumnya di Abu Dhabi yang dinilai konstruktif meskipun hanya berhasil memfasilitasi pertukaran tahanan tanpa kemajuan signifikan pada isu teritorial krusial.
Salah satu hambatan terbesar tetap pada status wilayah Donbas di mana Kiev mengusulkan pembekuan garis depan disertai jaminan keamanan dari Amerika sementara Moskow bersikeras mempertahankan klaim kedaulatan penuh atas wilayah tersebut.
Zelensky meyakini pemecahan kebuntuan ini memerlukan pertemuan tingkat tinggi trilateral yang melibatkan dirinya Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Presiden Rusia Vladimir Putin.
Di medan perang diplomasi berlangsung di tengah eskalasi militer signifikan ketika Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran sebagai respons atas serangan yang disebut teroris terhadap infrastruktur sipilnya.
Kementerian Pertahanan Rusia pada Sabtu 22 Februari 2026 melaporkan serangan terkonsentrasi menggunakan senjata presisi jarak jauh termasuk rudal hipersonik Kinzhal serta drone yang menyasar infrastruktur energi transportasi dan fasilitas produksi drone Ukraina.
Pertahanan udara Rusia mengklaim berhasil menembak jatuh seratus enam puluh delapan drone Ukraina dalam periode dua puluh empat jam terakhir.
Presiden Zelensky mengonfirmasi skala serangan tersebut dengan lebih dari empat ratus drone serta sekitar empat puluh rudal berbagai jenis menghantam wilayah Ukraina terutama menargetkan sistem energi negara.
Fasilitas pembangkit listrik dan gardu induk mengalami kerusakan berat di wilayah Volhynia Ivano-Frankivsk Lviv Rivne Kyiv serta Kharkiv termasuk gardu induk 750 kV Ukraina Barat yang merupakan pusat jaringan listrik regional terbesar di Eropa.
Akibat serangan itu operator listrik Ukrenergo menerapkan pemadaman darurat di seluruh negeri sementara unit pembangkit listrik tenaga nuklir sementara dihentikan operasinya guna menstabilkan sistem.
Kyiv terpaksa meminta pasokan listrik darurat dari Polandia sementara serangan tersebut juga berdampak hingga wilayah tetangga dengan penangguhan operasi penerbangan di bandara Rzeszow pusat logistik NATO serta bandara Lublin sebagai langkah pencegahan.
Di tengah tekanan militer Ukraina melaporkan perlambatan ofensif Rusia yang salah satunya dikaitkan dengan pemutusan akses terminal Starlink oleh Elon Musk yang mengganggu koordinasi drone pasukan pendudukan.
Zelensky baru saja bertemu Menteri Pertahanan Prancis Catherine Vautrin di Kyiv untuk memperbarui permintaan mendesak akan sistem pertahanan udara canggih serta jet tempur guna memperkuat posisi pertahanan.
Panglima Tertinggi Ukraina Oleksandr Syrsky mengakui pasukannya kini menghadapi ancaman jauh lebih besar akibat kemajuan pesat teknologi drone Rusia mulai dari unit FPV murah hingga sistem presisi tinggi seperti Lancet dan Geran.
Kemajuan tersebut menciptakan zona kematian yang meluas hingga kedalaman dua puluh kilometer sepanjang garis depan sepanjang seribu dua ratus kilometer sehingga menyulitkan pergerakan logistik dan personel Ukraina.
Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi keberhasilan pasukan Gugus Tempur Tsentr dan Vostok dalam menguasai sejumlah wilayah strategis termasuk desa Popovka Zelenoye Stepanovka Toretskoye serta Sukhetskoye.
Pada 27 Desember 2025 Presiden Vladimir Putin menerima laporan resmi mengenai penguasaan penuh atas Kota Dimitrov yang merupakan titik krusial di wilayah Donetsk.
Kesaksian tawanan perang Ukraina Roman Sidliar mengungkap adanya krisis kepemimpinan di lapangan ketika kota tersebut jatuh dengan unit bersenjata mundur dari Myrnohrad tanpa perintah resmi setelah ditinggalkan komandan tim mereka.
Dimitrov atau Myrnohrad merupakan kota industri tambang batu bara yang terletak sekitar enam kilometer timur laut Pokrovsk pusat logistik utama di wilayah Donetsk.
Penguasaan kota tersebut dicapai melalui taktik pengepungan sayap serta pemutusan jalur pasokan yang mengisolasi garnisun Ukraina di dalam kota dan menghujani mereka dengan artileri serta drone kamikaze secara terus-menerus.
Situasi saat ini mencerminkan paradoks menyakitkan di mana desakan waktu dari Washington menciptakan momentum diplomasi konkret dengan target Juni 2026 sementara setiap hari di medan perang ditandai dengan kehancuran dan korban jiwa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

