Repelita Jakarta - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus menggencarkan narasi keberhasilan program kerja di kancah internasional termasuk pada pertemuan tahunan World Economic Forum 2026 di Davos Swiss seminggu lalu.
Presiden Prabowo menekankan capaian ekonomi yang diraih Indonesia sebagai bukti kemajuan signifikan di mata dunia.
Namun narasi tersebut langsung mendapat sorotan tajam setelah munculnya peristiwa tragis seorang siswa kelas IV SD berinisial YS yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pohon cengkeh Kecamatan Jerebuu Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur pada Kamis 29 Januari 2026.
Pengamat politik Rocky Gerung mengkritik keras kontradiksi antara gaung keberhasilan di forum global dengan realitas penderitaan rakyat kecil di dalam negeri.
Rocky menilai peristiwa anak berusia 10 tahun memilih bunuh diri karena ibunya tidak mampu membelikan buku tulis menjadi tamparan keras bagi klaim kemajuan bangsa.
“Buku tulis adalah kemampuan seseorang untuk memperlihatkan bahwa dia berniat untuk menjadi pemimpin di masa depan menjadi berguna bagi bangsa menjadi seseorang yang terdidik tanpa dia harus mengatakan bahwa dia ingin memperoleh bonus demografi” ujar Rocky Gerung dalam kanal YouTube pribadinya pada Selasa 3 Februari 2026.
Menurut Rocky buku tulis seharusnya menjadi hak dasar setiap anak Indonesia yang dijamin dan disediakan negara tanpa terkecuali.
Ia menekankan bahwa pemerintah seolah kehilangan fokus menggelorakan kebesaran bangsa ketika realitas di lapangan justru menunjukkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan paling mendasar.
“Jadi kita ada di dalam kondisi semacam itu untuk mulai membaca bagaimana disparitas pada akhirnya menghasilkan misery” tandasnya.
Rocky menilai peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan sistemik dalam menjamin keadilan sosial dan akses pendidikan yang layak bagi seluruh anak bangsa.
Tragedi di Ngada itu semakin mempertegas kesenjangan antara narasi prestasi di panggung dunia dengan kondisi riil masyarakat di pelosok tanah air.
Editor: 91224 R-ID Elok

