Repelita Washington D.C. - Ribuan dokumen korespondensi yang dimiliki oleh terpidana pelanggaran seksual Jeffrey Epstein kembali mengungkap jaringan hubungannya dengan tokoh-tokoh internasional yang berpengaruh. Publikasi email oleh Komite Pengawasan DPR Amerika Serikat menampilkan percakapan yang memuat permintaan tidak lazim dari Epstein kepada seorang diplomat tinggi AS serta pembahasan teknologi pengawasan anak.
Dalam salah satu email bertanggal Maret 2016, Epstein mengirim pesan kepada Thomas J. Barrack Jr. yang saat itu belum menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Turki. Isi pesan tersebut meminta Barrack untuk mengirimkan sebuah foto tertentu yang melibatkan seorang anak. "Kirimkan foto Anda dengan [seorang] anak, buatlah saya tersenyum," tulis Epstein dalam korespondensi yang kini menjadi sorotan.
Permintaan tersebut menimbulkan banyak pertanyaan mengingat latar belakang hukum Epstein yang telah divonis karena kejahatan seksual terhadap anak-anak pada tahun 2008. Korespondensi ini menunjukkan bahwa interaksinya dengan berbagai figur penting terus berlanjut meskipun telah memiliki catatan kriminal yang serius.
Dalam percakapan lanjutan dengan Barrack, Epstein juga menyebutkan bahwa dirinya sering menerima panggilan dari media yang menanyakan hubungannya dengan tokoh-tokoh politik besar di Amerika Serikat. Email ini muncul pada periode penting yaitu musim semi tahun 2016 ketika proses pemilihan presiden AS sedang berlangsung.
Thomas J. Barrack Jr. dikenal sebagai sahabat lama dari Presiden Donald Trump dan pernah menjabat sebagai ketua panitia pelantikan. Hubungan antara Trump dengan Epstein sendiri telah lama menjadi bahan kritik dan perdebatan publik meskipun pemerintahan Trump menyatakan bahwa hubungan tersebut telah berakhir bertahun-tahun sebelumnya.
Dokumen yang dibuka juga mengungkap diskusi Epstein dengan Sultan Ahmed bin Sulayem, seorang eksekutif tinggi dari perusahaan pelabuhan global DP World asal Dubai. Pada tahun 2011, Sultan Ahmed mengirimkan email kepada Epstein mengenai konsep sepatu pintar dengan pelacak GPS yang dirancang untuk memantau pergerakan anak-anak.
Epstein membalas email tersebut dengan tanggapan yang positif dan antusias. "Terima kasih, itu ide yang bagus, saya sangat menyukai teman Anda," tulisnya dalam balasan yang tercatat dalam dokumen. Pembahasan tentang teknologi pengawasan anak ini menimbulkan pertanyaan etis mengingat latar belakang pelanggaran yang dilakukan oleh Epstein.
Seluruh dokumen yang dirilis terdiri dari lebih dari dua puluh ribu halaman korespondensi sebagai bagian dari upaya transparansi oleh komite DPR AS. Publikasi ini memberikan gambaran tentang kompleksitas jaringan hubungan antara Epstein dengan kalangan elite politik dan bisnis internasional.
Banyak analis yang menyoroti betapa dokumen ini mengaburkan batas antara hubungan pribadi, kepentingan bisnis, dan pengaruh politik di tingkat global. Hingga saat ini, perwakilan resmi dari pihak-pihak yang disebutkan dalam email belum memberikan pernyataan komprehensif mengenai temuan tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

