
Repelita - Ahli epidemiologi Tifausiyah Tyassuma memberikan tanggapan kritis mengenai penampilan mantan Presiden Joko Widodo dalam Rapat Kerja Nasional Partai Solidaritas Indonesia yang digelar pada Sabtu tanggal 31 Januari 2026.
Menurut analisis dokter yang akrab disapa Dokter Tifa tersebut, terdapat strategi tertentu di balik penampilan Jokowi yang terlihat mengalami gangguan kesehatan dan tampak ringkih saat tampil di atas panggung acara politik tersebut.
Analisis ini muncul setelah publik mempertanyakan konsistensi seorang figur publik yang tetap aktif menghadiri acara politik meskipun kondisi fisiknya tampak terganggu. Dokter Tifa meyakini bahwa penampilan tersebut bukan sekadar bentuk dukungan terhadap partai politik tertentu melainkan bagian dari konstruksi narasi tertentu.
Ia melihat adanya pola permainan korban yang disengaja di balik penampilan fisik mantan presiden tersebut dengan menciptakan kesan sebagai pihak yang terus menderita meskipun sedang dalam kondisi kesehatan yang tidak optimal. Pengulangan kalimat "Saya masih sanggup" selama pidato dinilai Dokter Tifa bukan tanpa makna psikologis yang mendalam.
Menurut analisisnya, pengulangan frasa tersebut mencerminkan letupan bawah sadar yang tidak terkontrol yang tanpa disadari terekam oleh publik yang menyaksikan acara tersebut. Alih-alih menimbulkan rasa simpati dari masyarakat, penampilan tersebut justru memunculkan respons sebaliknya dalam bentuk sinisme dan keraguan.
Banyak komentar warganet yang justru bernada sinis setelah menyaksikan video mantan Presiden ketujuh Republik Indonesia tersebut dalam kondisi fisik yang tampak terganggu. Masyarakat mempertanyakan ambisi politik yang tampaknya tidak pernah padam meskipun kondisi kesehatan sudah tidak mendukung aktivitas publik yang intensif.
Publik melihat fenomena tersebut sebagai upaya untuk mengkomodifikasi bahkan kondisi sakit sekalipun sebagai bagian dari narasi politik yang dibangun untuk tujuan tertentu. Salah satu komentar warganet yang diulas Dokter Tifa menyoroti ambisi yang dinilai tidak mengenal batas meskipun telah mencapai berbagai pencapaian politik.
Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Muhammad Said Didu juga ikut memberikan komentar terkait penampilan fisik mantan presiden tersebut. Ia menyatakan kekagetan atas perubahan kondisi fisik yang tampak sangat signifikan meskipun perbedaan usia tidak terlalu jauh antara dirinya dengan mantan presiden.
Menurut analisis Dokter Tifa, ambisi tanpa batas tersebut seolah tidak mengenal kata cukup dalam konteks pencapaian politik dan pengaruh. Dunia politik tampaknya tidak pernah memadai untuk memuaskan keinginan tertentu, dan satu-satunya batas yang mungkin dapat menghentikan hanyalah maut itu sendiri.
Analisis yang disampaikan oleh ahli epidemiologi tersebut meskipun cukup tajam dan kritis menjadi salah satu sudut pandang dalam dinamika politik Indonesia yang terus mengalami perkembangan. Berbagai respons terhadap penampilan mantan presiden tersebut mencerminkan polarisasi pandangan masyarakat terhadap figur politik senior.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

