Repelita Beirut - Lebanon menyatakan kekhawatiran mendalam bahwa negaranya berpotensi terdampak parah akibat eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat terutama jika Israel serta Hizbullah turut terlibat dalam pertempuran tersebut.
Pemerintah Lebanon sedang berupaya maksimal melindungi infrastruktur vital dari segala bentuk ancaman yang mungkin muncul seiring memanasnya situasi regional.
Ada indikasi bahwa Israel dapat melancarkan serangan yang sangat keras jika terjadi eskalasi yang berisiko mencakup infrastruktur strategis seperti bandara.
Menteri Luar Negeri Lebanon Youssef Raggi menyampaikan hal tersebut pada Selasa 24 Februari 2026 sambil menekankan upaya diplomatik intensif agar fasilitas sipil Lebanon tidak menjadi target serangan.
Pernyataan itu muncul di tengah peningkatan signifikan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengancam akan melakukan serangan terhadap Iran jika Teheran menolak kesepakatan terkait program nuklirnya.
Iran sendiri menyatakan akan membalas setiap serangan dari Amerika Serikat dengan keras dan serentak serta memperingatkan risiko meletusnya konflik berskala regional.
Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem sebelumnya memperingatkan bahwa kelompoknya tidak akan bersikap netral apabila Iran mendapat serangan dari Amerika Serikat atau Israel.
Pada Senin 23 Februari 2026 Washington memerintahkan seluruh pegawai nondarurat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut untuk segera meninggalkan Lebanon sebagai langkah pencegahan.
Seorang pejabat Lebanon yang enggan disebut namanya mengungkapkan ketakutan utama adalah efek domino berupa serangan Amerika Serikat ke Iran diikuti balasan Hizbullah terhadap Israel kemudian respons masif dari Israel.
Dalam pernyataan di X Menteri Luar Negeri Raggi menyatakan harapannya agar Hizbullah menahan diri dari keterlibatan dalam konflik baru demi menghindari kehancuran tambahan di Lebanon.
Kami telah menerima peringatan yang mengindikasikan bahwa setiap intervensi dari pihaknya dapat mendorong Israel untuk menyerang infrastruktur dan kami tengah berupaya melalui berbagai cara untuk mencegah hal itu.
Israel masih rutin melakukan serangan ke wilayah Lebanon meskipun gencatan senjata dengan Hizbullah telah disepakati pada November 2024 untuk mengakhiri permusuhan lebih dari satu tahun.
Pada Jumat 20 Februari 2026 Israel melancarkan serangan mematikan ke pusat komando Hizbullah di Lebanon timur serta target terkait Hamas di Lebanon selatan.
Hizbullah melaporkan delapan pejuangnya gugur dan berjanji akan melakukan perlawanan balik.
Pemerintah Lebanon berkomitmen melucuti senjata Hizbullah dan telah menugaskan angkatan bersenjata menyusun serta melaksanakan rencana tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir militer Lebanon berupaya membongkar fasilitas serta terowongan Hizbullah sekaligus menyita persenjataan milik kelompok tersebut.
Pada Januari 2026 militer mengumumkan penyelesaian tahap pertama pelucutan senjata yang mencakup wilayah selatan Sungai Litani sekitar tiga puluh kilometer dari perbatasan Israel.
Israel menilai upaya militer Lebanon dalam pelucutan senjata masih jauh dari memadai.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

