Repelita Jakarta - Pidato Presiden Prabowo Subianto kembali menarik perhatian luas masyarakat setelah ia secara terbuka menyatakan kekaguman mendalam terhadap dua tokoh dunia sebagai panutan utamanya.
Presiden Prabowo menyebut Mustafa Kemal Ataturk serta Mehmed Sang Penakluk yang merupakan mantan Sultan Utsmaniyah sebagai pahlawan ikon dan figur yang paling ia kagumi.
Anak muda pahlawan saya ikon saya adalah Mustafa Kemal Attaturk dan Mehmed Sang Penakluk mantan Sultan Ustmaniyah.
Kekaguman tersebut bukan sekadar pernyataan lisan melainkan tercermin dalam kehidupan sehari-harinya melalui kepemilikan patung kedua tokoh tersebut.
Kalau saudara datang ke kantor saya di Jakarta kalau saudara datang ke rumah saya di Jakarta ada patung Mustafa Kemal Ataturk di kantor saya di rumah saya.
Pernyataan itu memicu tanggapan kritis dari Guru Besar Universitas Airlangga Henri Subiakto yang mempertanyakan pilihan panutan presiden.
Kok yang jadi idola Pak Prabowo bukan pahlawan dari Indonesia.
Henri kemudian mengingatkan sejumlah tokoh nasional yang dinilainya memiliki jasa luar biasa bagi perjuangan dan kebesaran bangsa Indonesia.
Seperti Panglima Sudirman Pangeran Diponegoro Ir Soekarno Patimura atau mungkin Gadjah Mada yang berjuang terkait dengan kebesaran Bangsa ini.
Ia juga menyoroti sosok Mustafa Kemal Ataturk yang dikenal sebagai tokoh sekuler di Turki sehingga dianggap kurang sesuai sebagai idola bagi pemimpin Indonesia.
Kenapa harus Mustafa Kemal Attaturk yang tak lain adalah tokoh Sekuler dari Turki.
Henri lebih lanjut mempertanyakan latar belakang dan motivasi di balik pernyataan tersebut dari seorang kepala negara.
Ada apa sebenarnya yang ada di benak presiden kita ini apa yang jadi obsesi dirinya setelah berkuasa.
Ia menyinggung dinamika politik Prabowo pada Pilpres 2014 dan 2019 yang terlihat sangat dekat dengan gerakan politik Islam serta tokoh-tokohnya.
Lalu kenapa dulu 2014 dan 2019 aktivitas politik Prabowo begitu nampak sangat dekat dan akrab dengan gerakan politik Islam beserta tokoh tokohnya.
Menurut Henri reaksi publik yang muncul saat ini merupakan hal yang wajar dan dapat dimengerti.
Dengan demikian tentu tidak bisa disalahkan jika sekarang publikpun merasa telah dikecewakan.
Henri menyimpulkan bahwa perasaan kecewa bahkan merasa dibohongi oleh ucapan serta perilaku Prabowo serta pimpinan politik tingkat tinggi menjadi respons yang logis dari masyarakat.
Bahkan telah dibohongi oleh ucapan dan perilaku pak Prabowo dan para pimpinan puncak politik negeri ini apa tidak demikian.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

