Repelita Timur Tengah - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak, ditandai dengan pergerakan pasukan dan persenjataan AS ke perbatasan Iran.
Informasi intelijen yang bocor mengindikasikan kemungkinan serangan untuk melumpuhkan program nuklir dan kekuatan militer Iran dalam waktu dekat.
Mantan Presiden AS Donald Trump, melalui cuitan misteriusnya, mengisyaratkan "akhir yang tak terelakkan" bagi Iran jika terus menantang Barat.
Amerika Serikat dan sekutu Barat telah lama menganggap Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai kekuatan utama yang digunakan Iran untuk menyebarkan pengaruh dan kekerasan.
Pada April 2019, pemerintahan Trump secara resmi menetapkan IRGC sebagai Organisasi Teroris Asing (FTO), sebuah langkah pertama dalam sejarah AS terhadap angkatan bersenjata resmi suatu negara.
Penetapan ini didasarkan pada tuduhan bahwa IRGC mendukung kelompok militan di Timur Tengah, terlibat dalam upaya pembunuhan diplomat, dan penculikan warga negara asing.
Uni Eropa juga menyatakan IRGC sebagai kelompok teroris sebagai respons terhadap penindasan brutal terhadap protes di Iran.
Sebagai balasan, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengumumkan bahwa Iran menganggap semua militer negara-negara Uni Eropa sebagai kelompok teroris.
Qalibaf menyatakan, "Dengan menyerang Garda Revolusi, yang justru penghalang terbesar terorisme ke Eropa, orang Eropa merugikan diri sendiri dan, sekali lagi karena patuh buta pada Amerika, bertindak melawan kepentingan rakyat mereka sendiri," seperti dikutip saat sidang parlemen.
Anggota parlemen Iran juga meneriakkan "Matilah Amerika!" dan "Matilah Israel!" dalam sidang tersebut.
Langkah balik Iran ini, berdasarkan undang-undang 2019, lebih bersifat simbolis, namun muncul di tengah atmosfer yang sangat genting.
Trump dikabarkan terus mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran jika terjadi pembunuhan demonstran damai atau eksekusi massal tahanan protes.
Iran merespons dengan menggelar latihan militer tembakan langsung di Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima minyak dagang dunia.
Di tengah ketegangan militer, diplomasi nuklir juga berlangsung.
Trump terus mendesak Iran untuk merundingkan kesepakatan nuklir baru, sambil mengungkapkan bahwa komunikasi antara kedua negara tetap berjalan.
Namun, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tetap menolak pembicaraan langsung dengan AS.
Ketidakpastian meningkat ketika Trump menolak mengonfirmasi keputusannya terkait Iran, membiarkan dunia menebak-nebak langkah berikutnya.
Pemerintah AS telah menginstruksikan gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln untuk bersiap di wilayah Timur Tengah, didukung oleh kapal perusak berpeluru kendali dan kapal tempur pesisir.
AS juga memperkuat pertahanan udara di pangkalan-pangkalan regional, termasuk pemindahan batalion pertahanan udara Patriot ke pangkalan udara Al-Udeid di Qatar.
Pangkalan militer AS di sekitar Iran menampung sekitar 50.000 personel tentara.
Operasi militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran diperkirakan akan mengandalkan pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang berbasis di Amerika Serikat.
Menghadapi tekanan ini, Iran melalui IRGC menggelar latihan tembak langsung di Selat Hormuz pada 1-2 Februari 2026, untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menutup jalur perdagangan minyak dunia.
Militer Iran menyatakan bahwa seluruh kekuatan bersenjata mereka berada dalam kondisi "siaga penuh" dengan instruksi "jari berada di pelatuk".
Teheran telah menyiapkan strategi perang hibrida yang mencakup ribuan pesawat tak berawak dan pengaktifan milisi sekutu di Lebanon, Irak, dan Yaman.
Iran juga mulai mempublikasikan keberadaan basis-basis rudal bawah laut di sepanjang pantai Selat Hormuz sebagai pesan pencegahan.
Khamenei menegaskan bahwa setiap serangan AS tidak akan berlalu tanpa balasan dahsyat, yang dapat memicu perang regional total.
Meskipun militer kedua belah pihak sudah berada dalam posisi tempur, jalur negosiasi rahasia dilaporkan masih berjalan untuk mencegah pecahnya perang terbuka.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

