Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Pengamat: Sjafrie Sjamsoeddin Alarm Politik bagi Istana, Ingatkan SBY yang Menikung Megawati

 SOSOK Sjafrie Sjamsoeddin Diisukan Jabat Menhan dalam Kabinet Prabowo, Eks  Pengawal Soeharto - Tribun-medan.com

Repelita Jakarta - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin masuk dalam jajaran calon presiden potensial Pemilihan Umum 2029 berdasarkan survei Indonesian Public Institute yang dirilis pada 9 Februari 2026, sebuah fakta yang disebut pengamat sebagai alarm politik bagi Istana Kepresidenan.

Survei bertajuk Peta Elektabilitas Calon Presiden 2029 yang digelar pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 menempatkan Sjafrie Sjamsoeddin di posisi ketujuh dengan raihan elektabilitas 7,5 persen dari 1.241 responden yang tersebar di 35 provinsi.

Posisi teratas masih ditempati Presiden Prabowo Subianto dengan elektabilitas 22,3 persen menyusul Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di peringkat kedua dengan 12,2 persen.

Di belakang Gibran bertengger nama Ganjar Pranowo 9 persen, Anies Baswedan 8,5 persen, Dedi Mulyadi 7,9 persen, Pramono Anung 7,8 persen, dan Sjafrie Sjamsoeddin 7,5 persen.

Survei dengan margin of error 2,78 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen ini juga mencatat nama Puan Maharani 5 persen, Purbaya Yudhi Sadewa 4,9 persen, Sherly Tjoanda 3,8 persen, Mualem 3,1 persen, Sandiaga Uno 3 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 1,9 persen, dan Ridwan Kamil 1,6 persen.

Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas menilai kehadiran nama Sjafrie Sjamsoeddin dalam bursa capres bukan sekadar angka statistik melainkan pertanda serius bagi stabilitas politik pemerintahan Prabowo-Gibran.

"Posisi Prabowo dan Gibran di puncak survei memang tidak mengejutkan, namun kehadiran nama Sjafrie dalam daftar tersebut membuka pertanyaan menarik sekaligus mengkhawatirkan bagi stabilitas politik pemerintahan saat ini," kata Fernando di Jakarta pada Selasa (10/2/2026).

Ia menyebut Menteri Pertahanan yang dikenal sebagai sahabat karib Prabowo Subianto itu bukanlah nama asing dalam konstelasi politik nasional karena memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan.

"Wataknya yang tegas dan latar belakang militer membuat sosoknya dipandang sebagai menteri paling powerful di kabinet. Ketika seorang menteri pertahanan mulai masuk dalam radar calon presiden, alarm politik seharusnya berbunyi keras di istana," jelasnya.

Fernando menarik benang merah antara fenomena Sjafrie dengan peristiwa politik dua dekade silam saat Susilo Bambang Yudhoyono yang menjabat Menteri Koordinator Politik dan Keamanan di kabinet Megawati Soekarnoputri memutuskan maju sebagai calon presiden.

"SBY berhasil 'menikung' Megawati dalam Pilpres 2004 dan kemudian berkuasa selama dua periode, total 10 tahun. Ini menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan oleh presiden petahana," kata Fernando mengingatkan.

Menurut pengamat politik ini, sejarah berpotensi terulang karena pola yang terjadi identik yakni orang dalam dengan akses kekuasaan dan pengaruh besar menjadi ancaman terbesar bagi petahana.

"Peristiwa SBY dan Megawati adalah pelajaran paling jelas bahwa kedekatan personal tidak menjamin loyalitas politik. Ketika ambisi kekuasaan bertemu dengan peluang, bahkan persahabatan terdekat bisa berubah menjadi persaingan paling sengit," tandasnya.

Publik dan pengamat politik kini menanti apakah Presiden Prabowo Subianto akan mengambil langkah antisipatif atau membiarkan dinamika ini berkembang sebagaimana pengalaman pahit yang dialami Megawati Soekarnoputri dua puluh dua tahun silam.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved