Repelita Jakarta - Pemberian gelar Profesor Kehormatan kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon memantik tanggapan tajam dari Made Supriatma, seorang peneliti di ISEAS Yusof Ishak Institute.
Dalam sebuah tulisan yang ia beri judul cukup provokatif, Dunia Jilat Menjilat, pria asal Bali itu mengupas fenomena menjilat pejabat yang menurutnya merajalela.
Baginya, fenomena ini tak bisa lepas dari adanya transaksi yang terjadi antara kedua belah pihak yang terlibat.
Mengapa ada penjilat? Karena ada yang dijilat. Yang dijilati seneng. Penjilatnya bathi alias untung, ujar Made, dikutip Sabtu, 14 Februari 2026.
Namun begitu, transaksi dalam jilat-menjilat ini berjalan secara asimetris karena kekuasaan antara kedua pihak tidak pernah seimbang.
Pihak yang dijilat selalu punya kuasa lebih besar, sementara si penjilat rela melakukan apa saja demi keselamatan atau sekadar mendapat sedikit keuntungan.
Ia bahkan menyamakannya dengan pelacuran, tapi dengan catatan bahwa pelacuran oleh lonte justru lebih terhormat.
Moral ground-nya beda karena dalam perjilatan kekuasaan, moral nyaris tak ada dan yang ada cuma penyerahan total.
Transaksinya pun mutlak, tak bisa ditawar, karena yang dijilat memegang kendali penuh atas situasi tersebut.
Di sisi lain, transaksi pelacuran dianggapnya lebih bermoral karena setidaknya ada relasi yang relatif setara antara pembeli dan penjual.
Sedangkan dalam perjilatan, transaksi terjadi antara penguasa dan mereka yang rela menghinakan diri setinggi-tingginya.
Coba bayangkan, lanjutnya, seorang pejabat datang ke suatu tempat dan setiap hari disambut serta disalami oleh orang yang itu-itu saja.
Mereka berpidato di depan wajah yang sama dan tertawa saat pejabat itu melucu, meski leluconnya sama sekali tidak lucu.
Anehnya, para dogol penjilat ini paham maksud sang pejabat sedang melucu meskipun tidak ada yang lucu sama sekali.
Mereka bersorak ketika pejabat bersemangat dan ikut menangis saat pidatonya bernada sedih tanpa menggunakan rasionalitas.
Rasionalitas tak lagi penting karena pokoknya semua yang diucapkan sang atasan adalah hal yang rasional.
Ambil contoh gentengisasi yang dianggap rasional meskipun perintah mengganti atap pun dikeluarkan tanpa pertimbangan matang.
Tak peduli sebagian besar markas tentara beratap seng atau spesifikasi koperasi desa merah putih memakai baja ringan dan seng.
Pokoknya ganti dengan genteng dan kalau ambruk diperintahkan untuk ganti tanpa peduli ambruk atau tidak.
Lantas, mengapa orang mau menjadi penjilat dan rela menghinakan diri sedemikian rupa meskipun orang berilmu tinggi.
Bahkan orang-orang berilmu tinggi pun bisa berubah jadi dogol yang dongok dalam sistem perjilatan ini.
Made punya jawabannya bahwa tidak ada jawaban lain karena kehendak untuk berkuasa menjadi motivasi utamanya.
Orang itu sendiri butuh dijilati oleh bawahannya dan rantai ini terus berlanjut, bertingkat-tingkat, hingga ke rakyat jelata.
Rakyat jelata yang tak punya siapa-siapa untuk dijilat akhirnya terpaksa menjilati luka mereka sendiri.
Tapi apa salahnya karena jangan salah sangka dulu tentang dunia perjilatan ini.
Dunia perjilatan inilah, menurut Made, yang menjadi pusat dari segala korupsi yang terjadi di negeri ini.
Watak korup itu berawal dari kebiasaan dan mentalitas menjilat yang merupakan bahaya sesungguhnya menggerogoti dari dalam.
Sebelumnya diberitakan, Universitas Nasional (Unas) menganugerahi gelar Profesor Kehormatan bidang keilmuan politik dan kebudayaan untuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Menurut Rektor Universitas Nasional El Amry Bermawi Putera dalam sambutannya di Jakarta, Rabu, 11 Februari 2025, pemberian gelar tersebut berdasarkan karya intelektual hingga pengabdian kebudayaan yang dilakukan Fadli Zon.
"Berdasarkan rekam jejak akademik kemudian karya intelektual serta pengabdian kebudayaan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, saudara Fadli Zon memenuhi kriteria sebagai Profesor Kehormatan Universitas Nasional," ujar El Amry.
Pihaknya juga melihat dari sisi akademik, Fadli memiliki latar belakang pengetahuan mendalam mengenai ilmu sosial dan sejarah berkat pendidikan sebelumnya di Universitas Indonesia hingga pendidikan doktoral di bidang sejarah.
Capaian itu, lanjut dia, diwujudkan melalui aktivitas keilmuan, penulisan artikel ilmiah serta keterlibatan diskusi akademik di tingkat nasional dan internasional.
Menurutnya kontribusi Fadli linear dengan visi misi Universitas Nasional yakni pelestarian kebudayaan, penguatan memori kolektif bangsa dengan aktif menghadirkan museum dan mengembangkan rumah budaya seperti museum keramik nusantara, museum pusaka hingga museum kujang.
Kehadiran museum tersebut menurutnya tak hanya menjadi rumah pamer namun juga pusat edukasi, dokumentasi dan penelitian kebudayaan nusantara yang terbuka bagi masyarakat luas dan peneliti.
Selain itu, dedikasi Fadli atas pencatatan, merawat, mengumpulkan ribuan artefak budaya yang berhasil mencatatkan rekor dalam MURI juga menjadi pertimbangan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

