![]()
Repelita Jakarta - Sejumlah personel Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditempatkan di wilayah Timur Tengah untuk menghadapi potensi konflik dengan Iran mulai menunjukkan tanda-tanda kegelisahan akibat tekanan penugasan yang berkepanjangan.
Perpanjangan masa tugas awak kapal induk USS Gerald R Ford untuk kedua kalinya atas keputusan Presiden Donald Trump membuat banyak prajurit merasa terbebani setelah hampir satu tahun jauh dari keluarga.
Banyak awak kapal yang kini mempertimbangkan untuk mengundurkan diri karena sulitnya menjalani misi panjang di tengah ketegangan regional yang tinggi.
Salah satu awak kapal mengeluhkan kondisi fasilitas toilet di kapal yang mulai rusak sehingga menambah ketidaknyamanan selama penugasan.
Komandan Kapal Induk USS Gerald R Ford Kapten David Scaroshi menggambarkan perpanjangan tugas ini sebagai situasi yang sangat sulit bagi dirinya dan seluruh awak kapal.
David Scaroshi menyatakan bahwa banyak acara keluarga yang terlewatkan akibat penugasan di kawasan yang penuh ketegangan dengan Iran.
Kondisi tersebut terutama terasa berat bagi awak kapal yang telah berkeluarga atau sedang merindukan kehadiran orang-orang terdekat di rumah.
Komunikasi dengan keluarga pun sering terhambat karena alasan kerahasiaan pergerakan kapal induk sehingga menambah beban psikologis prajurit.
Kepala Operasi Angkatan Laut Amerika Serikat Laksamana Daryl Caudle menyampaikan penyesalan atas perpanjangan masa tugas tersebut.
Ia menyoroti bahwa penugasan panjang ini menimbulkan dampak finansial bagi angkatan laut serta beban tambahan bagi awak kapal dan keluarganya.
Kondisi kapal juga mulai menurun karena jadwal pemeliharaan dan pemeriksaan rutin harus ditunda akibat operasi yang berkelanjutan.
Situasi ini semakin menimbulkan kegelisahan di tengah ancaman eskalasi konflik dengan Iran yang bisa terjadi kapan saja.
Presiden Donald Trump tampak mulai menunjukkan rasa frustrasi menghadapi sikap Iran yang tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan meski Amerika Serikat telah mengerahkan kekuatan militer besar-besaran.
Utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff mengungkapkan hal tersebut selama pembicaraan lanjutan antara kedua negara di Genewa Swiss.
Steve Witkoff menyatakan bahwa Presiden Trump terus memantau posisi Iran dengan seksama setelah memberikan ancaman konsekuensi berat jika kesepakatan tidak tercapai.
Ia menambahkan bahwa Trump penasaran mengapa Iran belum menyerah meskipun tekanan militer semakin intens.
Witkoff mengakui bahwa memaksa Teheran untuk tunduk bukanlah hal yang mudah bagi Amerika Serikat.
Ratusan jet tempur Amerika Serikat telah ditempatkan dalam status siaga tinggi di Timur Tengah untuk menghadapi potensi konfrontasi dengan Iran.
Lebih dari lima puluh jet tempur tambahan termasuk F-22 Raptor F-35 Lightning II serta F-16 telah dipindahkan ke pangkalan-pangkalan dekat Iran dalam waktu singkat.
Secara keseluruhan diperkirakan lebih dari lima ratus pesawat tempur pengebom pengintai serta tanker pengisian bahan bakar udara berada di kawasan tersebut.
Dua kapal induk nuklir Amerika Serikat yaitu USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford dikerahkan ke posisi strategis di Laut Arab serta Mediterania Timur untuk memperkuat pengepungan terhadap pasukan IRGC Iran.
Ketegangan semakin memanas setelah perundingan nuklir di Muscat dan Jenewa berakhir tanpa hasil kesepakatan apa pun.
Presiden Donald Trump memberikan ultimatum kepada Teheran untuk menerima kesepakatan baru mengenai program nuklir dan rudal balistik dalam waktu terbatas.
Pasukan Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan bahwa mereka berada dalam kondisi siaga tinggi dan telah melaksanakan latihan militer dengan peluru tajam di Selat Hormuz.
Pesawat militer Amerika Serikat juga terlihat siaga di lokasi pendukung seperti Bandara Internasional Sofia di Bulgaria untuk mendukung operasi logistik.
Situasi ini terus dipantau ketat oleh Komando Pusat Amerika Serikat serta lembaga internasional karena risiko gangguan jalur minyak global di Selat Hormuz.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah tunduk pada tekanan dari kekuatan luar.
Dalam pidato terbarunya ia menyinggung tekanan internasional yang dinilai tidak adil terhadap Iran.
Pezeshkian menyatakan bahwa rakyat Iran tidak akan menyerah pada tekanan dari Amerika Serikat maupun Israel.
Ia menegaskan kami tidak akan menundukkan kepala menghadapi masalah-masalah ini.
Pezeshkian meyakini bahwa selama masih bernapas rakyatnya akan terus berjuang demi kehormatan dan kebanggaan negara.
Selama kami masih hidup dan bisa bernapas kami akan mengorbankan hidup kami untuk negara kami ujarnya.
Dengan rahmat dan kekuatan Tuhan kami tidak akan menundukkan kepala menghadapi kesulitan-kesulitan ini tegas Pezeshkian.
Meskipun dunia luar dan kekuatan global secara tidak adil menekan kami untuk tunduk kami tidak akan menundukkan kepala janjinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

