Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Ragu-Ragu Serang Iran, Internal Pentagon Mulai Pecah Kongsi: Trump Ditegor Jenderal Tertinggi AS?

Pentagon peringatkan risiko perang Iran

Repelita Jakarta - Keinginan Presiden Donald Trump untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran menuai kecaman keras dari internal Pentagon.

Jenderal tertinggi Amerika Serikat Dan Caine secara terbuka memperingatkan bahwa operasi militer melawan Teheran akan menjadi salah satu yang paling sulit dalam sejarah militer negara tersebut.

Dan Caine menilai langkah tersebut bakal memakan biaya paling mahal serta membawa risiko tertinggi yang pernah dihadapi Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir.

Trump mendorong opsi militer setelah perundingan nuklir dengan Iran dilaporkan mengalami kebuntuan total.

Ia meyakini tekanan bersenjata dapat memaksa Teheran menghentikan program nuklirnya secara permanen.

Berbagai skenario serangan telah dibahas mulai dari operasi terarah ke fasilitas strategis hingga aksi skala besar yang menyasar markas Garda Revolusi Islam serta infrastruktur rudal balistik.

Di balik tekanan politik yang kuat muncul resistensi tegas dari kalangan militer profesional.

Dalam rapat tingkat tinggi di Situation Room para pejabat keamanan nasional diminta memberikan evaluasi secara objektif tanpa bias politik.

Dan Caine menyampaikan analisis yang jauh lebih hati-hati dibandingkan narasi optimis dari lingkaran politik Gedung Putih.

Dan Caine menegaskan bahwa Iran bukan target sederhana yang bisa dilumpuhkan melalui satu gelombang serangan udara semata.

Ia menilai Teheran memiliki sistem pertahanan berlapis jaringan komando yang solid serta pengalaman panjang menghadapi tekanan internasional berkepanjangan.

Iran bukan Venezuela bukan pula negara kecil dengan struktur militer yang mudah dilumpuhkan demikian penilaian Dan Caine dalam diskusi internal tersebut.

Dua kelompok kapal induk Amerika Serikat telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah sementara jet tempur pesawat pembom serta sistem pertahanan udara ditempatkan dalam status siaga tinggi.

Meskipun kekuatan militer Amerika Serikat tampak dominan Pentagon menilai konflik dengan Teheran tidak akan berlangsung singkat.

Serangan terbatas berisiko memicu respons balasan yang luas dan berkepanjangan dari pihak Iran.

Iran memiliki kemampuan misil jarak menengah drone tempur kapal cepat bersenjata serta jaringan milisi di Irak Suriah Lebanon dan Yaman.

Jika Washington memulai serangan Teheran dapat membalas melalui berbagai titik sekaligus melalui sekutu regionalnya sehingga konflik tidak terbatas di wilayah Iran saja.

Eskalasi berpotensi menyebar dengan cepat ke seluruh kawasan Timur Tengah.

Pentagon juga mempertimbangkan kesiapan nasional Amerika Serikat di mana armada laut pesawat angkut serta sistem pertahanan telah beroperasi intens selama berbulan-bulan.

Operasi skala besar melawan Teheran akan menguras sumber daya logistik memperpanjang masa penugasan serta meningkatkan risiko kelelahan operasional prajurit.

Bagi kalangan militer keputusan ini bukan hanya soal kemampuan menghancurkan target melainkan daya tahan menghadapi perang yang melebar dan berlangsung lama.

Penolakan Pentagon tidak semata berdasarkan hitungan taktis melainkan kalkulasi strategis jangka panjang.

Iran memiliki keunggulan geografis berupa wilayah pegunungan luas yang menjadi benteng alami serta fasilitas vital yang banyak tertanam jauh di bawah tanah.

Serangan udara saja belum tentu mampu menghancurkan seluruh infrastruktur penting yang ada.

Operasi darat akan sangat berisiko dan berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

Iran berada di sekitar Selat Hormuz jalur perdagangan minyak dunia yang sangat vital.

Gangguan di wilayah tersebut dapat memicu lonjakan harga energi global dalam waktu sangat singkat.

Lonjakan harga minyak akan berdampak langsung pada inflasi biaya logistik serta stabilitas ekonomi internasional.

Pasar global bisa bereaksi negatif hanya karena eskalasi militer yang terbatas sekalipun.

Pentagon menilai serangan terhadap Teheran berpotensi menyatukan elite politik dan masyarakat Iran di bawah semangat nasionalisme yang kuat.

Tekanan militer asing sering kali justru memperkuat solidaritas domestik bukan melemahkannya.

Dalam konteks ini tujuan menggoyahkan kepemimpinan Teheran melalui tekanan bersenjata bisa berbalik arah dan malah memperpanjang konflik.

Diplomasi belum sepenuhnya tertutup karena ada wacana pembatasan pengayaan nuklir Iran untuk keperluan medis sebagai jalan tengah.

Namun belum ada kepastian apakah kedua pihak bersedia menerima kompromi tersebut.

Trump tetap memandang tekanan militer sebagai alat negosiasi yang efektif.

Ia meyakini ancaman nyata dapat memaksa Iran kembali ke meja perundingan dalam posisi lebih lemah.

Sebaliknya Pentagon mengingatkan bahwa ancaman yang salah perhitungan dapat berubah menjadi perang terbuka.

Sekali konflik pecah eskalasi bisa meluas dengan cepat dan sulit dikendalikan.

Perbedaan pendekatan ini mencerminkan kontras antara kepemimpinan politik dan kalkulasi militer profesional.

Gedung Putih ingin menunjukkan ketegasan sementara Pentagon menimbang konsekuensi nyata di lapangan.

Kini dunia menanti arah kebijakan Washington apakah Trump akan tetap mendorong opsi serangan atau mendengar peringatan jenderal tertinggi Amerika yang menilai risiko terlalu besar untuk diabaikan.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran bukan sekadar isu bilateral melainkan menyangkut stabilitas Timur Tengah keamanan energi global serta keseimbangan geopolitik dunia.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved