
Repelita Jakarta - Direktur ABC Riset & Consulting Erizal menyatakan sangat aneh jika pada akhirnya disimpulkan bahwa ijazah mantan Presiden Joko Widodo asli mengingat kejanggalan yang begitu banyak sejak awal.
Erizal menekankan bahwa semakin lama semakin terlihat banyak ketidaksesuaian yang sulit dijelaskan secara logis dalam kasus tersebut.
Ia menyoroti pengakuan Jokowi sendiri bahwa IPK-nya di bawah 2 yang menurutnya tidak wajar bagi lulusan sarjana meskipun dengan maksud merendah.
Erizal juga mempertanyakan legalisasi ijazah Jokowi yang diperoleh dari KPU oleh Bonatua Silalahi karena tidak ada catatan tanggal bulan maupun tahun yang jelas.
Menurutnya tidak ada lulusan sarjana yang mengaku IPK di bawah 2 secara terbuka apalagi disertai pernyataan dosen pembimbing akademik dan skripsi yang saling bertentangan.
Erizal menilai pernyataan Rektor UGM Ova Emilia yang membela Jokowi sebagai alumni juga kontradiktif karena menyebut dua tanggal kelulusan berbeda yaitu 5 November dan 23 Oktober 1985.
Ia mempertanyakan mana yang benar di antara kedua tanggal tersebut sehingga menambah keraguan atas keabsahan dokumen.
Erizal mengungkapkan kekecewaannya atas nasib dua warga negara Bambang Tri dan Gus Nur yang dipenjara karena mempersoalkan ijazah Jokowi.
Ia menegaskan bahwa ijazah tersebut tidak pernah dibuka dan diperiksa di depan persidangan sehingga pola yang sama terlihat berulang hingga saat ini.
Erizal menyatakan bahwa kejanggalan yang berlapis membuat kesimpulan ijazah asli terasa tidak masuk akal dan sulit diterima publik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

