Repelita Teheran - Iran melancarkan pembalasan dahsyat dengan rudal hipersonik dan drone besar-besaran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat serta wilayah Israel sebagai respons atas serangan gabungan pada Sabtu 28 Februari 2026.
Korps Garda Revolusi Islam mengonfirmasi peluncuran rudal balistik dan pesawat nirawak yang menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln serta instalasi strategis AS di kawasan Teluk.
Pangkalan udara Al-Udeid di Qatar yang menjadi markas terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah menjadi salah satu sasaran utama serangan balasan Teheran.
Ledakan keras mengguncang Manama ibu kota Bahrain di mana sirene darurat meraung di seluruh wilayah markas Armada Kelima AS.
Beberapa laporan menyebut rudal hipersonik IRGC ditujukan langsung ke kapal induk USS Abraham Lincoln sehingga menjadi incaran prioritas pembalasan Iran.
Israel menetapkan status darurat nasional dengan sirene peringatan serangan udara berbunyi di Yerusalem Tel Aviv serta berbagai kota besar lainnya.
Pesawat resmi Perdana Menteri Israel yang dikenal sebagai Wing of Zion terlihat berputar-putar di lepas pantai negara tersebut sementara spekulasi menyebut Netanyahu telah meninggalkan wilayah daratan Israel.
"Netanyahu telah meninggalkan Israel" tulis akun X @Partisan_12 dalam cuitan yang menjadi sorotan luas.
Wilayah udara Israel Iran serta Irak ditutup total untuk lalu lintas penerbangan sipil guna menghindari risiko lebih lanjut.
Ledakan terdengar di wilayah utara Israel dan jantung kota Tel Aviv setelah sistem pertahanan udara kewalahan menghadapi intensitas serangan balasan Iran.
Puing rudal yang dicegat jatuh di area pemukiman Uni Emirat Arab dan menewaskan satu warga sipil setempat.
Perdana Menteri Israel menyebut serangan balasan Iran sebagai ancaman eksistensial sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi operasi tempur besar telah berlangsung.
Situasi di lapangan berkembang sangat cepat sehingga seluruh kawasan Timur Tengah berada dalam tingkat kewaspadaan tertinggi.
Dampak pembalasan Iran ini berpotensi memperluas konflik dan menarik lebih banyak aktor regional serta internasional ke dalam pusaran ketegangan yang semakin memanas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

