
Repelita Jakarta - Pernyataan Tenaga Ahli Dewan Pertimbangan Presiden, Sabrang Mowo Damar Panuluh, bahwa program Makmur Bangun Gotong Royong bukan program politik karena penerimanya adalah anak sekolah yang belum punya hak pilih, menuai kritik pedas.
Penulis Ahmad Tsauri secara terbuka mempertanyakan apakah pernyataan tersebut merupakan bentuk pembodohan publik atau sekadar hasil analisis yang tumpul.
Tsauri membantah klaim Sabrang dengan fakta bahwa tidak semua penerima manfaat MBG adalah anak-anak yang belum memiliki hak pilih.
Ia menjelaskan bahwa siswa SMA kelas tiga tahun 2026 dan siswa SMK kelas satu akan menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2029, sehingga klaim bahwa mereka tidak bisa menyumbang suara adalah keliru.
Lebih lanjut, Tsauri mengungkap struktur program MBG yang justru berpotensi membangun mesin politik yang sangat besar.
Ia menyoroti besarnya modal yang dibutuhkan untuk menjalankan satu unit dapur MBG, yaitu sekitar Rp1,5 miliar, yang hanya dapat dipenuhi oleh kalangan pengusaha menengah dan pejabat.
Dalam struktur tersebut, banyak posisi direktur jenderal dan eselon diisi oleh purnawirawan TNI, sementara yayasan pengelola di daerah berafiliasi dengan yayasan pensiunan militer.
Tsauri juga mengkritik kompleksnya rantai pasok dan ekonomi di sekitar MBG, yang melibatkan pengusaha besar, tengkulak, hingga kader yang telah diangkat sebagai aparatur sipil negara.
Dari perhitungannya, satu dapur MBG dapat menghasilkan laba sekitar Rp200 juta per bulan, yang dalam lima tahun dapat terkumpul menjadi Rp12 miliar untuk satu dapur saja.
Dengan asumsi satu orang menguasai tiga hingga empat dapur, potensi akumulasi dana yang sangat besar untuk kepentingan politik menjadi nyata.
Ekspansi program ke pesantren, ormas, aparat desa, dan kelompok masyarakat lainnya semakin memperkuat jaringannya.
Oleh karena itu, Tsauri menilai pernyataan Sabrang bahwa MBG bukan program politik tidak sesuai dengan realitas di lapangan.
Ia menduga klaim tersebut adalah upaya untuk menutupi potensi besar MBG sebagai alat politik yang efektif untuk mengamankan dukungan elektoral.
Tsauri menegaskan bahwa publik saat ini sudah semakin kritis dan mampu menganalisis dinamika yang terjadi.
Pernyataan yang dianggap menyesatkan justru berpotensi menjadi bumerang bagi yang mengemukakannya.
Artikel ini menampilkan perbedaan pandangan yang tajam antara narasi resmi pemerintah dan kritik dari pengamat independen mengenai hakikat program MBG. (*)

