
Repelita Jakarta - Polemik materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono yang menyindir mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terlihat mengantuk terus bergulir di media sosial pada 7 Januari 2026.
Sejumlah warganet memberikan tanggapan beragam terhadap kritik dokter Tompi yang menyebut kondisi tersebut sebagai ptosis.
Salah satu opini yang mencuri perhatian datang dari akun @ommi_siregar yang membagikan cuplikan video dari Nandang Sutisna.
Nandang Sutisna dalam video tersebut menyatakan ketidaksetujuannya baik terhadap Pandji maupun terhadap penjelasan medis dari Tompi.
“Saya tidak setuju dengan Pandji yang menyebut Mas Gibran ngantuk
Saya juga tidak sepakat dengan dr. Tompi yang bilang ptosis.
Menurut saya mas Gibran bukan ngantuk atau ptosis tapi kosong dan bingung, khususnya ketika mendapat pertanyaan dadakan…..”
Menurut Nandang, ekspresi Gibran bukan karena kantuk atau kelainan medis, melainkan karena kekosongan pemahaman serta kebingungan saat menghadapi pertanyaan mendadak.
Pernyataan ini diartikan sebagian warganet sebagai sindiran bahwa Gibran tidak mengukur kemampuan diri sendiri dalam menjawab isu-isu substantif.
Video berjudul "Yang Salah Bukan Gibran Tapi…" yang diunggah Nandang Sutisna menjadi bahan diskusi lanjutan.
Akun @SriMRasyid1 ikut berkomentar bahwa abang ini biasa saja dan Ngomong panjang lebar keliling luas, sementara cuma mau bilang wapres tidak mengukur kemampuan.
Tanggapan Nandang ini menambah dimensi baru dalam perdebatan yang sebelumnya berfokus pada batas humor politik versus sensitivitas kondisi fisik.
Publik terus membahas apakah kritik terhadap penampilan pejabat publik boleh menyentuh aspek ekspresi wajah atau kemampuan intelektual saat berbicara spontan.
Diskusi ini mencerminkan polarisasi opini di kalangan netizen terkait figur Gibran sebagai wakil presiden termuda dalam sejarah Indonesia.
Polemik serupa sering muncul setiap kali ada satire atau komentar publik yang menyentuh penampilan atau performa pejabat tinggi negara.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

