
Repelita Jakarta - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kembali menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap kerusakan lingkungan, khususnya hutan di berbagai wilayah Indonesia seperti Aceh dan Sumatera yang baru-baru ini dilanda banjir bandang serta tanah longsor.
Dengan nada tegas yang selama ini menjadi ciri khasnya, Susi Pudjiastuti secara langsung memohon kepada Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengambil tindakan menghentikan seluruh kegiatan pertambangan serta pembalakan liar yang menjadi pemicu utama bencana ekologis.
Ungkapan tersebut disampaikan melalui serangkaian unggahan di akun media sosialnya pada 6 Januari 2026, di mana ia secara spesifik menandai akun resmi Presiden Prabowo Subianto, Sekretaris Kabinet, Kementerian Pertahanan, serta akun pribadi Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Mohon hentikan penambangan & logging saat ini.
Selain menyerukan penghentian aktivitas tambang dan penebangan hutan tanpa izin, Susi Pudjiastuti juga mendesak pemerintah untuk secepatnya mengalihkan semua sumber daya alat berat guna merehabilitasi pemukiman serta desa-desa yang porak-poranda akibat bencana.
Geser semua peralatan mereka untuk merevitalisasi desa2 pemukiman masyarakat dari lumpur, kayu dan puing2 lainnya.
Cuitan Susi Pudjiastuti tersebut merupakan respons langsung terhadap rekaman video yang dibagikan oleh akun @aceh, memperlihatkan deretan truk berukuran besar yang terus beroperasi mengangkut material tambang di salah satu kawasan Aceh.
Truk-truk tersebut diketahui beraktivitas di wilayah Aceh Selatan, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Di tengah bencana besar banjir dan longsor yang melanda Aceh, pengerukan dan penambangan sumber daya alam tetap berlangsung tanpa henti.
Ironisnya, saat ini Aceh justru mengalami kekurangan ribuan unit alat berat untuk membersihkan lumpur serta memperbaiki infrastruktur jalan yang rusak parah akibat longsor.
Seperti diketahui, bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Provinsi Aceh pada akhir November tahun sebelumnya telah menyebabkan kerusakan luas di sejumlah daerah.
Hingga saat ini, proses pemulihan belum sepenuhnya tuntas, dengan kondisi yang semakin parah karena timbunan lumpur tebal serta batang kayu gelondongan yang menghambat upaya rehabilitasi.
Editor: 91224 R-ID Elok.

