Repelita Jakarta - Dokter Tifauzia Tyassuma menyampaikan kritik keras terhadap pertemuan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo yang diikuti penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan oleh Polda Metro Jaya.
Menurutnya langkah kunjungan tersebut menjadi kunci utama yang mengubah arah proses hukum dari penyidikan menjadi penghentian melalui mekanisme restorative justice.
Tifauzia menilai peristiwa beruntun itu sebagai contoh klasik penyalahgunaan wewenang yang merusak prinsip kesetaraan di hadapan hukum.
Ia menegaskan bahwa keputusan SP3 tidak lahir dari analisis yuridis yang obyektif melainkan dipengaruhi oleh akses langsung ke pihak berpengaruh.
“SP3 terbit bukan karena kasus tidak layak lanjutkan tetapi karena sowan” tegas Tifauzia dalam unggahan di akun X @DokterTifa pada 16 Januari 2026.
Sindiran semakin menusuk ketika ia menggambarkan kondisi penegakan hukum yang kini mudah ditekuk oleh kekuatan finansial dan relasi politik.
Ia menyebut institusi kepolisian seperti kehilangan integritas karena terlalu rentan terhadap intervensi dari luar.
"Betapa perkasanya uang milik bapak yang saat ini sedang sakit sangat berat ini. Uang yang entah darimana didapatkan yang membuat Institusi Penegakan Hukum seperti Kepolisian RI bertekuk lutut seperti kerbau dicocok hidung" tulisnya dengan nada sangat tajam.
Selain isu SP3 Tifauzia juga menyentil polemik lama terkait status akademik Jokowi di Universitas Gadjah Mada.
Ia menyayangkan peran Kasmudjo yang disebut-sebut sebagai pembimbing padahal Kasmudjo telah mengonfirmasi bahwa pada rentang 1980-1985 dirinya masih berstatus asisten dosen tanpa kewenangan membimbing.
“Kasihan Pak Kasmudjo di masa tuanya dipaksa ikut-ikutan menjadi pembohong” ungkap Tifauzia dengan nada prihatin sekaligus sinis.
Ia menutup dengan sindiran retoris mengenai keberadaan jurusan Teknologi Kayu di Fakultas Kehutanan UGM yang selama ini dikaitkan dengan latar belakang studi Jokowi.
"Jawabannya dhemit. Karena jurusan Teknologi Kayu Kehutanan UGM adanya hanya di gorong-gorong maka yang jadi Dosen di jurusan yang tidak ada itu pastilah dhemit" demikian penutup pedasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

