Repelita Jakarta - Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kekhawatiran mendalamnya terhadap dinamika geopolitik global dalam tiga bulan terakhir.
Mantan presiden yang akrab disapa SBY tersebut mengungkapkan kecemasannya mengenai potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga di tengah situasi internasional yang memanas.
Pernyataan tersebut disampaikannya melalui akun media sosial pribadi di X, @SBYudhoyono, pada hari Jumat tanggal 23 Januari 2026.
SBY mengaku telah secara intensif mengikuti perkembangan dunia selama tiga tahun terakhir, terutama dinamika global pada bulan-bulan paling akhir.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian, keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, dirinya merasa terus terang khawatir.
Ia menyatakan kecemasan yang mendalam kalau dunia akan mengalami prahara besar, terlebih lagi apabila prahara besar itu berbentuk Perang Dunia Ketiga.
Menurut analisisnya, sangat mungkin berbagai konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini akan berujung pada perang global skala penuh.
Pola situasi yang berkembang belakangan ini memiliki banyak kesamaan dengan kondisi yang pernah terjadi menjelang Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua.
Meskipun memprediksi kemungkinan buruk tersebut, SBY tetap menyatakan keyakinannya bahwa hal yang sangat mengerikan ini masih bisa dicegah dengan langkah-langkah tepat.
Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama pada periode 1914 hingga 1918 dan Perang Dunia Kedua pada 1939 hingga 1945 memiliki banyak kemiripan dengan situasi saat ini.
Salah satu tanda yang disorotinya adalah kemunculan para pemimpin kuat di berbagai negara dengan karakteristik tertentu berdasarkan pengamatannya.
Munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang menjadi salah satu pertanda situasi menjelang perang dunia berdasarkan pandangan geopolitiknya.
Pembentukan persekutuan negara yang saling berhadapan secara diametral juga merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan dalam skala global.
Pembangunan kekuatan militer secara besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perang turut menjadi faktor pemicu ketegangan geopolitik.
Geopolitik yang benar-benar panas di berbagai kawasan menjadi ciri khas yang mengingatkan pada periode-periode menjelang konflik besar sebelumnya.
Sejarah mencatat bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, kesadaran dan kepedulian untuk mencegah seringkali tidak muncul.
Langkah-langkah nyata untuk mencegah peperangan tersebut juga kerap tidak diambil oleh para pemimpin dunia pada masa-masa kritis.
Oleh karena itu, SBY menyatakan harapannya agar analisis atau prediksinya tersebut meleset dari kenyataan yang akan terjadi di masa depan.
Berbagai studi akademis menyatakan bahwa jika terjadi perang dunia total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tidak akan bisa dihindari sama sekali.
Korban jiwa dalam skenario terburuk tersebut bisa mencapai lebih dari lima miliar manusia dari berbagai belahan dunia.
Tidak akan ada peradaban yang tersisa dan seluruh harapan manusia akan musnah secara total dalam skenario konflik paling kelam tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

