Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Rusia Nilai Intervensi AS di Iran Akan Gagal dan Justru Perkuat Persatuan Nasional

Repelita [Moskwa] - Wakil Ketua Dewan Federasi Rusia Konstantin Kosachev menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan berhasil menerapkan pola operasi seperti di Venezuela jika mencoba melakukan campur tangan di Iran.

Pernyataan tersebut disampaikannya di tengah meningkatnya perhatian Presiden AS Donald Trump terhadap situasi politik dan keamanan di wilayah Iran.

Menurut Kosachev, seperti yang dilaporkan oleh kantor berita TASS pada Selasa, 13 Januari 2026, kondisi di Iran memiliki perbedaan mendasar dengan situasi yang pernah terjadi di Venezuela.

Dia menilai bahwa intervensi eksternal justru akan menghasilkan efek sebaliknya dengan memperkuat persatuan nasional di kalangan masyarakat Iran.

Konstantin Kosachev menegaskan bahwa Washington memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk melancarkan aksi militer skala besar terhadap negara Republik Islam tersebut.

Meskipun isu Iran menjadi salah satu prioritas utama dalam agenda pemerintahan Presiden Donald Trump, strategi yang mengandalkan gejolak internal dinilai tidak akan membuahkan hasil.

“Taruhan [AS] pada protes internal, yang tampaknya secara aktif didukung dari luar, terbukti sia-sia,” ujar Kosachev.

Dia menambahkan bahwa pemerintah Teheran masih memiliki kendali penuh atas situasi domestik dan bahkan mampu mengorganisir respons berupa demonstrasi dukungan besar-besaran di berbagai wilayah.

Kosachev menekankan bahwa campur tangan militer asing justru akan menciptakan dampak negatif bagi kepentingan strategis Amerika Serikat sendiri.

Menurut analisisnya, serangan dari luar akan menguatkan solidaritas dan rasa persatuan di antara seluruh komponen bangsa Iran.

“Intervensi [militer] eksternal dalam kondisi saat ini hanya akan memperkuat persatuan bangsa,” kata Kosachev.

Dia menyatakan bahwa operasi khusus dengan pola seperti yang diterapkan di Venezuela jelas tidak akan berhasil jika diimplementasikan di Iran.

Sementara itu, invasi militer skala besar justru berpotensi menjadi kegagalan yang lebih besar bagi Amerika Serikat dibandingkan pengalaman mereka di Afghanistan.

Selain faktor persatuan nasional, Rusia juga menilai Iran memiliki kapasitas teknis dan kemampuan keamanan yang memadai untuk menghadapi berbagai bentuk tekanan eksternal.

Kosachev menyoroti langkah-langkah efektif yang telah diambil oleh pemerintah Teheran selama gelombang unjuk rasa berlangsung.

“Kita melihat bahwa Teheran tidak hanya berhasil memblokir jejaring sosial yang memungkinkan koordinasi protes dari dalam dan luar negeri, tetapi juga menonaktifkan 80 persen terminal Starlink,” ujarnya.

Tindakan tersebut menunjukkan kemampuan Iran dalam mengendalikan situasi domestik dan mempertahankan stabilitas keamanan nasional.

Meskipun demikian, Kosachev mengakui bahwa Amerika Serikat masih memiliki ruang untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Dia menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump cenderung ingin bernegosiasi dari posisi kekuatan dengan menunjukkan kemampuan militernya.

Namun, dia menegaskan bahwa kunci stabilitas Iran sebenarnya terletak pada langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah negara itu sendiri.

“Banyak hal bergantung pada bagaimana reformasi yang dijanjikan dijalankan, dialog antara pemerintah dan masyarakat serta daerah berkembang, dan bagaimana ekonomi diperkuat,” kata Kosachev.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan penggunaan kekuatan militer untuk meredam kerusuhan di Iran.

Protes di negara tersebut bermula pada tanggal 29 Desember 2025, ketika para pedagang di Teheran turun ke jalan menyusul penurunan nilai tukar mata uang rial Iran.

Keesokan harinya, kalangan mahasiswa bergabung dalam unjuk rasa yang kemudian menyebar ke berbagai kota besar lainnya.

Protes memuncak pada tanggal 8 Januari dengan korban jiwa sedikitnya tiga belas warga sipil, termasuk seorang anak berusia tiga tahun.

Otoritas Iran juga melaporkan tiga puluh delapan aparat penegak hukum meninggal dunia selama insiden tersebut.

Pemerintah Iran menyebut para perusuh sebagai teroris yang didukung oleh Israel dan Amerika Serikat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved