Repelita Jakarta - Pengamat politik Rocky Gerung menyatakan bahwa kedudukan Joko Widodo sebagai mantan kepala negara semakin kehilangan substansi dan dianggap semakin palsu di mata publik. Pernyataan tegas ini disampaikannya setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Polda Metro Jaya pada Selasa, 27 Januari 2026, terkait kasus yang melibatkan keabsahan ijazah mantan presiden tersebut.
Rocky Gerung menjelaskan bahwa permintaan publik untuk melihat ijazah Jokowi berakar pada krisis kepercayaan dan pertarungan moral, bukan semata persoalan administratif. Ia menegaskan bahwa hal ini menunjukkan defisit kejujuran yang berimbas pada menipisnya legitimasi mantan pemimpin negara tersebut.
Menurutnya, meskipun pembuktian hukum mungkin menyatakan dokumen tersebut asli, persepsi publik yang telah mengkristal menganggap Jokowi sebagai figur yang tidak jujur. Persepsi ini, kata Rocky, adalah realitas sosial yang berdiri sendiri dan semakin mengikis wibawa kedudukannya.
Ia lebih lanjut memaparkan bahwa proses ini merupakan mekanisme koreksi sosial di mana tuntutan transparansi dari warga negara justru berfungsi menyembuhkan luka ketidakpercayaan. Namun, respon yang ditunjukkan dengan menghalangi keterbukaan justru mempercepat pendangkalan hormat dan kepalsuan kedudukan yang disandangnya.
Rocky Gerung menutup dengan penekanan bahwa inti masalah adalah ujian etika dan kedewasaan moral seorang mantan kepala negara dalam mempertanggungjawabkan diri sepenuhnya kepada rakyat. Ketidakmampuan atau keengganan untuk melakukannya, menurutnya, hanya akan mempertegas kesan kepalsuan dari kedudukan yang tersisa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

