Repelita Caracas - Operasi militer Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro memunculkan dugaan kuat bahwa Washington memiliki motif ekonomi di balik tindakan tersebut.
Venezuela diketahui menguasai cadangan minyak terbesar di dunia yang melebihi Arab Saudi.
Cadangan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 300 miliar barel yang dapat diproduksi secara ekonomis, dengan potensi total hingga 500 miliar barel di wilayah Sungai Orinoco.
Banyak pihak menilai bahwa sumber daya alam ini menjadi target utama intervensi Amerika Serikat.
Presiden Donald Trump tidak menyembunyikan ketertarikannya terhadap kekayaan sumber daya negara lain.
Dalam berbagai kesempatan, ia pernah menyatakan pentingnya mengamankan aset strategis untuk kepentingan nasional Amerika Serikat.
"Kami memang membutuhkan Greenland, tentu saja. Kami membutuhkannya untuk pertahanan," tandasnya dalam satu wawancara.
Pernyataan serupa kini dihubungkan dengan situasi Venezuela yang kaya minyak.
Penangkapan Maduro sendiri dilakukan atas tuduhan keterlibatan dalam jaringan kartel narkotika internasional.
Hingga kini, Maduro masih berada dalam tahanan otoritas Amerika Serikat.
Krisis ini telah mengguncang stabilitas politik Venezuela dan memicu reaksi dari berbagai negara di dunia.
Editor: 91224 R-ID Elok

