Repelita Bandung – Komika Pandji Pragiwaksono kembali menyajikan kritik tajam terhadap perilaku pemilih di Indonesia melalui pertunjukan stand-up comedy spesial kesepuluhnya yang berjudul Mens Rea.
Dalam materi satire bertema politik tersebut, Pandji membahas berbagai absurditas dalam budaya hukum serta kecenderungan masyarakat menentukan pilihan politik semata-mata karena faktor ketenaran.
Ia secara khusus menyoroti fenomena pemilih yang mengabaikan kemampuan serta integritas calon pemimpin.
Ada lagi yang milih berdasarkan yang populer.
Gue gak tau ini orang bisa kerja atau enggak.
Gue gak tau ahlaknya ini orang, pokoknya populer aja.
Artis, kata Pandji seperti dikutip pada Minggu (4/1/2026).
Pandji kemudian mengarahkan perhatiannya pada pola pemilihan di Jawa Barat.
Menurut pengamatannya, masyarakat Sunda cenderung memberikan suara kepada figur yang berasal dari dunia hiburan.
Nah ini diantara masyarakat Indonesia, gue sadari masalah terbesarnya untuk permasalahan ini tuh adanya di Jawa Barat.
Orang Sunda.
Orang Sunda seneng banget milih artis, ujarnya.
Pandji menyebut beberapa contoh pemimpin Jawa Barat yang memiliki latar belakang artis.
Gubernur mereka waktu itu, Deddy Mizwar, artis film.
Wakil gubernur mereka, Dede Yusuf, artis TV.
Sekarang gubernurnya, Dedi Mulyadi, artis Youtube.
Banyak yang gak suka.
Santai, tambah Pandji.
Pernyataan tersebut langsung mendapat tanggapan dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dedi merespons dengan sikap santai sekaligus mengapresiasi karya Pandji yang dianggapnya penuh kritik membangun.
Bang Panji terima kasih ya, saya penggemar Anda loh.
Anda ini keren, setiap pernyataan-pernyataannya itu menggeletik, korektif dan edukatif, ucap Dedi seperti dikutip pada Minggu malam (4/1/2026).
Dedi kemudian meluruskan sejumlah fakta terkait kontestasi politik di Jawa Barat.
Termasuk nih orang Jawa Barat tuh milih pemimpin selalu yang keartisan.
Tetapi sayang sekali Bang Panji, Pak Deddy Mizwar, dan Pak Dede Yusuf, waktu nyalonin jadi gubernur malah gak kepilih.
Pak Deddy Mizwar dulu pasangannya sama saya loh, calon wakil gubernurnya.
Kemudian Pak Dede Yusuf pasangannya dengan Pak Lex Laksamana, juga gak terpilih juga, jelas Dedi.
Meskipun demikian, Dedi menilai latar belakang artis tidak serta merta meniadakan kompetensi seseorang dalam memimpin.
Ia secara terbuka mengakui kemampuan Dede Yusuf di sektor pembangunan.
Tetapi walaupun dia artis, saya ngaku jujur Pak Dede Yusuf itu punya kemampuan, pemahaman pembangunan yang relatif sangat baik.
Dan sekarang dua kali menjadi pimpinan komisi di DPR RI, juga kerangka berpikir pembangunannya keren.
Nah untuk itu banyak yang artis juga punya kemampuan, ungkapnya.
Terkait julukan gubernur YouTuber yang sering dilekatkan padanya, Dedi memilih tidak membela diri secara berlebihan.
Ia justru mengundang masyarakat untuk mengevaluasi kinerjanya secara langsung.
Nah sedangkan saya sendiri, yang dianggap gubernur yang Youtuber, saya gak boleh muji diri saya.
Baik apa enggak saya memimpin, nah gini aja datang ke Jabar, keliling, lewatin tuh jalan-jalan provinsi.
Kemudian keliling ke daerah-daerah, di berbagai daerah di seluruh wilayah provinsi Jawa Barat, saya ngebangunnya bener apa enggak.
Apakah saya ini hanya gubernur konten atau gubernur kenyataan.
Kenyataan, kita sama-sama lihat bagaimana hasilnya.
Dedi menekankan pentingnya ruang kritik dalam sistem demokrasi.
Terus berkarya, melakukan otokritik yang terbuka karena ini negara demokrasi.
Setiap orang berhak menyampaikan pernyataan, pikiran, dan gagasan.
Termasuk koreksi secara terbuka, apalagi dikemas dalam koreksi-koreksi yang jenaka.
Keren.
Editor: 91224 R-ID Elok.

