
Repelita [Jakarta] - Seorang mantan politisi memberikan evaluasi terhadap kinerja kepemimpinan nasional selama periode satu tahun terakhir.
Mantan jurnalis dan eks politisi PDIP, Panda Nababan, menyampaikan penilaiannya tersebut dalam sebuah siniar yang ditayangkan melalui saluran YouTube Keadilan TV pada hari Senin tanggal 12 Januari 2026.
Awalnya, Panda Nababan mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya enggan untuk dijuluki sebagai pengkritik keras terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Meskipun demikian, ia memang kerap kali memberikan komentar dan tanggapan terkait berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini.
“Sebenarnya kalau dibilang pengkritik keras, enggak terlampau juga,” kata Panda Nababan.
Alasan di balik kritik-kritik yang dilontarkannya itu, menurut pengakuannya, adalah karena ia merasa bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak tampil sebagai diri yang sebenarnya.
“Saya mengkritik keras itu karena banyak yang harapan atau keinginan bahkan gambaran, bahwa dalam perjalanan ini, awal satu tahun ini, saya tidak melihat Prabowo yang sebenarnya,” ujar Panda.
Pandangan tersebut ia dasarkan pada pengenalannya terhadap sosok Prabowo Subianto selama ini, di luar dari kapasitasnya sebagai seorang presiden.
“Apa itu Prabowo yang sebenarnya? Orangnya tegas, problem solving, kemudian mengejar apa yang kalau dia mau,” ucapnya.
Ia mengungkapkan bahwa dalam kerangka kepemimpinan selama satu tahun ini, ia belum melihat sosok Prabowo yang sebenarnya muncul ke permukaan.
“Nah, di dalam kerangka ini, rangkaian ini, saya belum melihat Prabowo yang sebenarnya. The real Prabowo itu saya belum melihat. Apa itu the real Prabowo yang sebenarnya, orang yang tegas, cepat mengambil keputusan gitu loh,” sambungnya.
Latar belakang profesional Presiden Prabowo Subianto sebagai mantan tentara dari pasukan khusus seharusnya mendukung munculnya sikap-sikap kepemimpinan yang tegas dan cepat.
“Kemudian sangat juga bertumpu dipengaruhi latar belakangnya, dia tentara yang betul-betul dari pasukan tempur. Bukan bagian biasa begitu saja gitu loh,” imbuhnya.
Panda Nababan juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo sebenarnya memiliki banyak contoh yang bisa dipelajari dari para mantan presiden sebelumnya.
Mulai dari era kepemimpinan Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo.
“Keminder dan saya terkesan kecewa dan sebagainya, dia sebenarnya sudah bisa melihat beberapa contoh dia, kalau mau dalam kepresidenan” paparnya.
“Tarulah misalnya, apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan dari Soeharto ya kan. Bagaimana kemudian kekuatan kelemahan zaman setelah Habibie, kemudian masuk Gus Dur, Megawati, dan kemudian SBY. Kemudian juga Jokowi,” tambahnya.
Alih-alih menunjukkan ketegasan dan kelincahan dalam mengambil keputusan, Panda menilai kinerja Presiden Prabowo justru terlihat terseok-seok dan kurang solutif.
Banyak persoalan bangsa yang menurut pengamatannya belum dapat diselesaikan dengan baik dan tuntas oleh pemerintahan saat ini.
“Kok jadi gampang, jadi terseok-seok gitu loh, dan kemudian tidak solusi. Tidak selesai,” ucapnya.
Sebagai contoh konkret, ia menyoroti pernyataan-pernyataan pemerintah yang kerap menggembar-gemborkan program bersih-bersih namun tanpa indikator yang terukur.
Klaim-klaim tersebut menjadi sulit untuk diverifikasi oleh masyarakat karena tidak disertai dengan tolak ukur yang jelas dan transparan.
“Tidak bisa diukur, tidak bisa ditakar, sudah bersih apa belum, dan dia tidak buka ruang untuk masyarakat terlibat untuk mengetahui apa bersih apa belum itu yang menyedihkan,” pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

