
Repelita Jakarta - Dari balik statusnya sebagai tersangka yang tengah menjalani masa penahanan, mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer Gerungan atau dikenal dengan panggilan Noel menyampaikan peringatan keras terhadap Menteri Keuangan Purbaya Yudha Sadewa.
Noel menyatakan bahwa sang menteri berpeluang mengalami nasib serupa dengannya yang ia istilahkan sebagai "dinoelkan".
Ia mendeteksi adanya pola yang mirip dalam langkah-langkah untuk meruntuhkan pejabat negara yang dinilai menghalangi kepentingan golongan tertentu.
Berdasarkan informasi tingkat tinggi yang diklaimnya diperoleh, modus operandi yang menjerat dirinya disebutkan mulai diarahkan pula kepada Purbaya Yudha Sadewa.
Menurut pengakuannya, siapapun yang dinilai merusak "pesta" yang digelar oleh para bandit akan menerima serangan balik yang terorganisir.
Ia mengungkapkan ada suatu kekuatan dengan sengaja melepaskan "anjing-anjing liar" untuk menggulingkan pihak-pihak yang berseberangan dengan agenda mereka.
Meski berada dalam tekanan proses hukum, Noel menegaskan bahwa kondisi mentalnya sama sekali tidak ambruk dan ia tetap teguh.
Ia menggambarkan dirinya sebagai seorang petarung sejati yang pada waktunya nanti akan bangkit kembali untuk memperjuangkan kebenaran.
Keyakinan religius yang dianutnya juga disebut sebagai sumber kekuatan utama dalam menjalani segala tantangan hukum saat ini.
Terkait dakwaan yang dihadapi, ia mempertanyakan angka kerugian negara sebesar Rp70 juta yang dilayangkan oleh jaksa penuntut umum.
Menurut nalar mantan pejabat tersebut, nominal tersebut terasa tidak masuk akal jika dikaitkan dengan tuduhan korupsi untuk level jabatan wakil menteri.
Ia menyindir bahwa nilai tersebut justru terlalu kecil dan tidak sepadan untuk menggambarkan skema kejahatan yang dituduhkan ke pundaknya.
Ia meyakini kasus hukum yang sedang ia hadapi merupakan bentuk pembalasan dendam dari kalangan pengusaha yang merasa terusik.
Kekesalan mereka dinilai bermula dari gaya kepemimpinan Noel yang kerap melakukan inspeksi mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya selama menjabat.
Kebijakannya yang sering kali berpihak kepada kepentingan dan kesejahteraan kaum buruh juga diduga menjadi pemicu ketidaknyamanan tersebut.
Di akhir pernyataannya, ia turut melontarkan kritik pedas terhadap kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia.
Moralitas lembaga antirasuah itu dipertanyakan karena dinilai sibuk menangani kasusnya di saat bangsa Indonesia sedang dilanda berbagai musibah bencana alam.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

