Repelita Jakarta - Politisi Partai Keadilan Sejahtera Mardani Ali Sera menyuarakan kekhawatiran atas kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2025 yang defisitnya mendekati batas maksimal.
Angka 2.92% defisit nyaris menyentuh angka keramat 3% seperti diamanatkan UU Keuangan Negara tentang maksimal defisit, tulis Mardani Ali Sera dalam unggahannya pada Kamis (8/1/2026).
Situasi ini semakin berat karena adanya pemotongan anggaran untuk penanganan bencana dalam negeri.
Di tengah tekanan biaya pemulihan bencana dalam negeri, plus peluang naik harga minyak yang memperbesar defisit ditambah ekspor yang masih terkendala, katanya.
Tekanan APBN di 2026 mesti waspada, tambahnya.
Mardani menyampaikan doa khusus bagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam menghadapi tantangan tersebut.
Pak Purbaya perlu didoakan bisa memberi stimulus yang menggerakkan ekonomi dalam negeri plus quality spending ditambah perbaikan proses birokrasi dan terus perangi korupsi, ucapnya.
Harapannya ICOR kita kembali bisa di bawah 5%, lanjutnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap produk domestik bruto hingga akhir Desember 2025.
Angka tersebut lebih tinggi dari sasaran awal 2,53 persen serta estimasi pertengahan tahun 2,78 persen namun masih di bawah ambang batas undang-undang yaitu 3 persen.
Walau melembung, kami pastikan di bawah 3 persen, ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Januari 2026 di Jakarta pada Kamis.
Pendapatan negara sementara tercatat Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target Rp3.005,1 triliun.
Penerimaan dari sektor perpajakan mencapai Rp2.217,9 triliun atau 89 persen dari sasaran Rp2.490,9 triliun.
Rincian pajak sebesar Rp1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target Rp2.189,3 triliun.
Kemudian kepabeanan dan cukai Rp300,3 triliun atau 99,6 persen dari target Rp301,6 triliun.
Penerimaan negara bukan pajak Rp534,1 triliun atau 104 persen dari target Rp513,6 triliun.
Sedangkan hibah Rp4,3 triliun atau 733,3 persen dari target Rp600 miliar.
Belanja negara sementara terealisasi Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari target Rp3.621,3 triliun.
Belanja pemerintah pusat Rp2.602,3 triliun atau 96,3 persen dari target Rp2.701,4 triliun.
Belanja kementerian dan lembaga Rp1.500,4 triliun atau 129,3 persen dari target Rp1.160,1 triliun.
Belanja non kementerian dan lembaga Rp1.102 triliun atau 71,5 persen dari target Rp1.541,4 triliun.
Transfer ke daerah Rp849 triliun atau 92,3 persen dari target Rp919,9 triliun.
Kenapa nggak potong belanja agar defisit kecil? Ketika ekonomi kita downfall, kita harus menurunkan stimulus perekonomian. Ini cara pemerintah menjaga ekonomi tumbuh berkesinambungan tanpa membebani APBN, jelas Purbaya.
Keseimbangan primer sementara mencatat defisit Rp180,7 triliun lebih lebar dari target awal Rp63,3 triliun.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

