Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Kuasa Hukum Buka Fakta: Roy Suryo Cs Diundang Eggi sebagai Ahli, Usai Perkara Malah Berubah Jadi Perang Opini Ijazah Jokowi

 

Repelita Jakarta - Kuasa hukum Eggi Sudjana, Elida Netti, membuka fakta penting terkait polemik dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo yang kini memicu perseteruan terbuka antara kubu Eggi Sudjana dengan Roy Suryo, Dokter Tifa, Rismon Sianipar serta tim kuasa hukum mereka.

Elida menjelaskan bahwa Roy Suryo, Dokter Tifa, dan Rismon Sianipar sejak awal bukan bertindak sebagai pihak independen, melainkan diundang langsung oleh Eggi Sudjana sebagai saksi ahli dalam proses hukum di Bareskrim Polri.

Ketiganya diminta hadir untuk membela Bambang Tri dan Gus Nur yang saat itu sedang diproses hukum terkait isu ijazah.

“Awalnya mereka diundang Bang Eggi sebagai ahli. Tujuannya murni hukum, mempertanyakan kenapa Bambang Tri dan Gus Nur ditahan sementara ijazah yang dipersoalkan tidak pernah ditunjukkan,” kata Elida dalam wawancara yang disiarkan saluran YouTube Cumicumi, Jumat (2/1/2026).

Menurut Elida, Eggi Sudjana telah lama mengikuti isu keaslian ijazah sejak tahun 2019 sehingga ketika kasus Bambang Tri dan Gus Nur muncul, ia mengajak ketiga tokoh tersebut untuk memberikan keterangan ahli dalam gelar perkara.

Namun setelah gelar perkara selesai, ketiganya justru membentuk tim sendiri dan mengubah arah pembahasan dari ranah hukum menjadi perdebatan opini publik.

“Sejak saat itu mereka berjalan sendiri. Fokusnya bukan lagi pembelaan hukum, tapi narasi publik soal ijazah Jokowi. Padahal klien kami sudah selesai urusannya,” tegas Elida.

Elida membantah keras tuduhan bahwa Eggi Sudjana mencoba lepas tangan dari isu tersebut.

Ia menegaskan Eggi justru memilih menjaga jarak demi menjaga kemurnian agenda hukum yang tidak ingin dibajak kepentingan lain.

“Bang Eggi itu bertanggung jawab. Urusan hukumnya selesai, klien kami taat proses. Tapi setelah itu ada pihak-pihak yang membawa isu ke arah lain, bahkan memusuhi Bang Eggi sendiri,” ujarnya.

Elida juga mengungkapkan adanya insiden pengusiran saat pertemuan di kantor mantan Ketua KPK Abraham Samad.

Saat itu Eggi sedang sakit dan dirawat di rumah sakit sehingga Elida bersama Muslim Arbi mewakilinya, namun mereka justru diminta keluar oleh Ahmad Khoizinuddin.

“Padahal inisiasi awal semuanya dari Bang Eggi. Tapi justru Bang Eggi dan timnya disingkirkan,” kata Elida.

Elida menegaskan posisi hukum Eggi Sudjana dalam perkara yang menjeratnya tidak terkait langsung dengan isu ijazah, melainkan tuduhan penghasutan, pencemaran nama baik, dan fitnah.

Ia menambahkan bahwa Eggi belum pernah menjalani pemeriksaan atau membuat berita acara pemeriksaan karena kondisi kesehatannya yang buruk.

“Klien kami ditetapkan sebagai tersangka tanpa pernah di-BAP karena sakit. Itu yang kami lawan lewat gelar perkara khusus, bukan lewat debat di media,” ujarnya.

Elida memohon agar publik tidak memelintir sosok Eggi Sudjana dengan narasi yang tidak adil.

“Bang Eggi puluhan tahun aktivis dan pejuang. Jangan dipelintir seolah-olah beliau pengecut atau lari dari tanggung jawab. Jalan Bang Eggi selalu jalan hukum,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa konflik yang terjadi bukan masalah pribadi, melainkan perbedaan mendasar antara pendekatan hukum dan pendekatan perang opini di ruang publik.

Elida juga mengungkapkan momen emosional saat ijazah asli Jokowi akhirnya diperlihatkan dalam gelar perkara khusus di Mapolda Metro Jaya pada Senin (15/12/2025).

Suasana sempat memanas karena terjadi perdebatan sengit terkait prosedur pembukaan barang bukti, namun akhirnya pimpinan gelar perkara mengizinkan dokumen itu dibuka demi transparansi.

“Perdebatannya panas. Ada yang sampai seperti memberi kuliah hukum dan menyalahkan kami. Saya sempat emosi dan bilang, jangan menyalahkan orang. Kalau pendapat hukum kamu benar, silakan, tapi jangan menghakimi,” ujar Elida dalam tayangan Channel YouTube Cumicumi, Jumat (19/12/2025).

Proses pembukaan dilakukan secara terbuka dengan memotong segel map penyitaan tertanggal 23 Juni di hadapan semua saksi dan pihak terkait.

Elida mengaku jantungnya berdegup kencang saat map dibuka dan memperlihatkan ijazah SMA serta ijazah S1 UGM yang telah mengalami kerusakan akibat usia.

“Waktu digunting itu jantung saya dag-dig-dug. Di luar ramai, saya berdoa, 'Ya Allah, ini sosok yang kita perdebatkan bertahun-tahun sekarang mau kita lihat',” tuturnya.

Meskipun dilarang menyentuh barang bukti, Elida mengaku nekat meraba permukaan kertas ijazah untuk memastikan adanya embos, watermark, dan stempel.

“Memang dilarang pegang, tapi kita tidak peduli. Selagi bisa megang, kita pegang. Dia mau tutup, saya tahan dengan ujung jari saya,” jelasnya.

Elida menyatakan puas karena merasakan langsung embos dan melihat tanda-tanda keaslian pada dokumen tersebut.

Ia menilai gelar perkara tersebut merupakan langkah penting yang mengurangi ketegangan polemik dan patut diapresiasi.

Meski demikian Elida pesimistis polemik ini akan segera usai karena isu tersebut sudah berlangsung terlalu lama dan kerap menjadi perbincangan publik.

Ia mengajak masyarakat untuk beralih membahas isu-isu kebangsaan yang lebih mendesak ketimbang terus terjebak dalam perdebatan yang tidak kunjung selesai.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved