
Repelita Jeneponto - Seorang guru honorer perempuan di SDN 7 Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, menjadi sorotan publik setelah diduga diberhentikan secara sepihak oleh kepala sekolah.
Guru yang telah mengabdi selama empat tahun tersebut menyuarakan keberatan atas kebijakan internal yang dinilai tidak adil, yang kemudian berujung pada pemecatannya.
Insiden tersebut terekam dalam sebuah video berdurasi hampir delapan menit yang menunjukkan ketegangan antara guru dan kepala sekolah di sebuah ruangan.
Dalam rekaman itu, sang guru mengungkapkan rasa ketidakpuasannya setelah dipindahkan dari tugas mengajar kelas ke mata pelajaran Bahasa Inggris.
Padahal, latar belakang pendidikannya adalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan tidak sesuai dengan mata pelajaran yang baru diberikan kepadanya.
“Kenapa saya dialihkan ke Bahasa Inggris, sedangkan jurusan saya PGSD?” ujar guru honorer itu dalam video.
Posisi guru kelas yang ia tinggalkan kemudian diisi oleh adik kandung dari kepala sekolah yang bersangkutan.
Menurut pengakuannya, adik kepala sekolah tersebut sebelumnya tidak aktif mengajar namun tiba-tiba dinyatakan lolos seleksi PPPK Paruh Waktu.
“Kalau memang dia aktif dari dulu, saya tidak keberatan. Tapi ini dia menggantikan posisi saya,” katanya.
Ia menegaskan penolakannya terhadap keputusan pemindahan tugas dan pengambilan alih kelas yang selama ini ia handle.
“Saya tidak mau kelasku diambil dan tidak mau dialihkan ke Bahasa Inggris begitu saja,” tegasnya.
Menanggapi protes tersebut, kepala sekolah berdalih bahwa dirinya hanya menjalankan aturan yang berlaku dan tidak memiliki wewenang untuk melanggarnya.
“Saya sudah tahu semua yang kau jelaskan, tapi saya tidak bisa melawan aturan,” ucap kepala sekolah.
Situasi dalam ruangan semakin memanas ketika kepala sekolah meninggikan suara dan memukul meja untuk menekankan otoritasnya.
“Saya bisa keluarkan kamu dari sini karena kamu masih honor. Tidak ada penghargaan sama sekali,” ujar kepala sekolah dengan nada keras.
Tak lama setelah itu, kepala sekolah secara tegas menyatakan pemberhentian guru honorer tersebut dari sekolah.
“Kau berhenti jadi honor. Saya keluarkan, titik. Jangan melawan,” katanya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Kasus ini menarik perhatian warganet, salah satunya Safri yang melalui akun Facebook @Safri Ngerho berharap pemerintah memberikan solusi terbaik.
“Insya Allah saya percaya kan dim hal ini Bapak Bupati terbaik kita untuk bantu saudari kita selesaikan masalah Nya,” tulis Safri.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa Bupati Jeneponto akan menangani keluhan guru honorer yang telah mengabdi selama empat tahun tersebut dengan bijaksana.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

