Repelita Bekasi - Warga Perumahan Green Lavender Sukamekar di Kabupaten Bekasi mengungkapkan kekecewaan terhadap pengembang perumahan.
Kekecewaan tersebut muncul akibat banjir yang terus berulang tanpa adanya solusi konkret dari pihak pengembang.
Seorang warga bernama Jeki Juliadi mengaku frustrasi karena banjir tidak kunjung teratasi sehingga membuat rasa aman hilang.
"Kalau masih banjir terus saya mau pindah dan kalau tidak ada kejelasan ini jadikan lumbung air saja biar jadi kampung mati sekalian," ujar Jeki.
Dia menyatakan hingga saat ini belum ada langkah nyata dari pengembang untuk menyelesaikan persoalan banjir tersebut.
Ribuan orang yang tinggal di perumahan tersebut terus menderita akibat genangan air yang sulit diatasi.
Warga selama ini hanya diminta untuk bersabar sementara janji perbaikan tidak pernah direalisasikan dengan baik.
"Selama ini tanggapan developer katanya sabar kalau tidak suka silakan pindah katanya mau bikin drainase tapi sampai saat ini tidak ada," kata Jeki.
Warga lain bernama Muhammad Jaelani menyebut banjir kali ini merupakan yang terparah dalam beberapa waktu terakhir.
Banjir ini merupakan banjir susulan kedua yang terjadi dalam rentang waktu yang sangat berdekatan.
"Kondisi di Perumahan Green Lavender Sukamekar ini sangat parah tanggal sembilan belas kemarin sudah surut ini banjir lagi dan tambah parah," ujarnya.
Warga mulai mempertimbangkan langkah lanjutan untuk menuntut solusi jangka panjang dari pihak berwenang.
Bahkan para ibu rumah tangga di perumahan tersebut berencana mendatangi langsung pihak pengembang.
"Ibu ibu sudah mau bergerak ke developer kalau tidak ada antisipasi terus kita bakal ada pergerakan atau cari solusi ke kementerian," kata Jaelani.
Menanggapi keluhan warga perwakilan pengembang yang bernama Rike menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten.
"Developer itu sebenarnya bukan tidak bertanggung jawab kita sudah benar benar support sama konsumen semua fasilitas kita siapkan," kata Rike.
Dia menegaskan bahwa pengembang tidak mungkin membangun perumahan tanpa izin resmi dari pemerintah daerah.
"Kalau tidak ada perizinan kita tidak mungkin jalan," ujarnya dengan tegas.
Pengembang akan terus mendorong penyelesaian persoalan banjir hingga ke tingkat pemerintah provinsi dan pusat.
"Ini kemarin saya titik terakhir langsung saya kirim ke Paket enam Paket tujuh kalau tidak masuk ke pusat saya langsung ke pusat ke pemprov," katanya.
Dia juga menyebutkan bahwa banjir tidak hanya melanda Perumahan Green Lavender tetapi juga kawasan sekitarnya.
"Kami capek dikomplain sama konsumen gara garanya pemerintah sebenarnya bukan kita saja developer di sini ada banyak," ujarnya.
Secara geografis kawasan perumahan ini berada di antara dua aliran sungai yaitu Kali Unit dan Kali CBL.
Posisi tersebut memperparah risiko banjir karena air dari kedua sungai dapat meluap ke pemukiman.
"Kita diapit dua kali Kali Unit sama Kali CBL Kali CBL sekarang posisinya rata dengan sawah kita juga sudah bikin tanggul tujuh meter," jelas Rike.
Namun tanggul setinggi tujuh meter tersebut jebol akibat luapan air dari Kali CBL yang masuk ke Kali Unit.
Empat titik tanggul mengalami kerusakan sehingga air berhasil masuk ke dalam kawasan perumahan.
Hingga hari Jumat sore banjir masih menggenangi Perumahan Green Lavender Sukamekar dengan ketinggian signifikan.
Warga berharap adanya kejelasan dan penanganan serius agar banjir tidak terus berulang di masa depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

