Repelita Surabaya - Program Beasiswa Pemuda Tangguh yang digulirkan Pemerintah Kota Surabaya untuk mahasiswa miskin ternyata tidak tepat sasaran.
Evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah kota mengungkapkan bahwa sekitar tujuh puluh persen penerima beasiswa tidak berasal dari keluarga miskin.
Program ini sebenarnya ditujukan khusus bagi mahasiswa ber Kartu Tanda Penduduk Surabaya dari keluarga desil satu hingga lima.
Kelompok tersebut mencakup keluarga dengan kondisi miskin hingga pra miskin yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan.
Dalam skema beasiswa pemerintah kota memberikan bantuan biaya pendidikan maksimal dua juta lima ratus ribu rupiah per semester.
Selain itu penerima juga mendapatkan uang saku sebesar tiga ratus ribu rupiah per bulan selama sepuluh bulan setiap tahunnya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya Heri Purwadi membenarkan temuan ini.
Dia menyatakan bahwa bantuan pendidikan untuk mahasiswa miskin merupakan tanggung jawab langsung pemerintah kota.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi telah memberikan pesan bahwa bantuan perkuliahan tidak boleh bersifat kapitalistik.
Heri Purwadi mengungkapkan bahwa sebagian besar penerima beasiswa justru berasal dari jalur mandiri perguruan tinggi.
Jalur mandiri selama ini identik dengan mahasiswa dari keluarga mampu karena adanya kewajiban membayar uang gedung.
"Yang dapat bantuan banyak dari jalur mandiri yang mana jalur ini banyak orang mampu dan ada uang gedungnya," katanya.
Wali Kota Eri Cahyadi langsung melakukan pengecekan setelah menerima berbagai laporan dari masyarakat setempat.
Hasil verifikasi menunjukkan banyak penerima bantuan memiliki kemampuan ekonomi yang tergolong tinggi.
Penghasilan orang tua dari sebagian penerima beasiswa bahkan mencapai di atas lima belas hingga dua puluh juta rupiah per bulan.
Kondisi ini jelas bertentangan dengan tujuan utama Program Beasiswa Pemuda Tangguh yang dirancang untuk keluarga miskin.
Jalur mandiri dengan beban uang gedung dinilai sebagai indikator kuat kemampuan ekonomi keluarga mahasiswa.
Heri Purwadi menegaskan bahwa Wali Kota Eri Cahyadi sangat marah dengan ketidaktepatan sasaran ini.
Temuan tersebut mendorong pemerintah kota untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh penerima beasiswa tahun ini.
Bantuan pendidikan akan dihentikan bagi penerima dari keluarga yang secara ekonomi dinilai mampu.
Dana tersebut akan dialihkan kepada mahasiswa yang benar benar membutuhkan sesuai dengan kriteria awal program.
Pemerintah kota tidak ingin bantuan pendidikan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang seharusnya dapat membiayai sendiri.
Prinsip keadilan dan pemerataan menjadi landasan utama dalam penyaluran bantuan sosial pendidikan di kota ini.
Program Beasiswa Pemuda Tangguh merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan akses pendidikan tinggi.
Evaluasi ini diharapkan dapat memperbaiki sistem penyaluran agar lebih tepat sasaran di masa mendatang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

