Repelita Nuuk - Pasukan pengintai militer Jerman telah menyelesaikan tugas singkat mereka di Greenland dan meninggalkan wilayah Arktik tersebut pada Minggu 18 Januari 2026.
Tim yang terdiri dari lima belas personel itu dijadwalkan kembali ke tanah air dengan penerbangan dari ibu kota Nuuk pada siang hari.
Padahal sebelumnya diperkirakan masa penugasan yang awalnya direncanakan selama dua hari akan diperpanjang lebih lama.
Juru bicara Komando Operasional Angkatan Darat Jerman menyatakan bahwa misi eksplorasi tersebut telah rampung sesuai jadwal meskipun tidak semua rencana dapat dilaksanakan karena faktor cuaca buruk.
Eksplorasi telah diselesaikan sesuai rencana kata juru bicara tersebut dalam pernyataan tertulis melalui email sebagaimana dilansir Luxembourg Times.
Ia menjelaskan bahwa satu stasiun tidak dapat dikunjungi akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Juru bicara itu menambahkan bahwa keterbatasan tersebut tidak mengganggu pencapaian tujuan pokok dari misi tersebut.
Namun demikian wawasan penting telah diperoleh yang kini memungkinkan kami mengoordinasikan kemungkinan langkah bersama dengan mitra kami dan dalam kerangka NATO untuk memperkuat keamanan di Atlantik Utara dan Arktik ujarnya.
Jerman memimpin pengiriman pasukan ke Greenland bersama beberapa negara Eropa lainnya dalam rangkaian eksplorasi militer pekan lalu.
Langkah bersama ini mencerminkan keseriusan negara-negara Eropa dalam menanggapi isu keamanan yang dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Selain Jerman negara-negara seperti Perancis Swedia Norwegia dan Inggris juga turut berpartisipasi menjelang latihan militer NATO yang telah direncanakan di kawasan tersebut.
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Trump pada Sabtu mengumumkan rencana penerapan tarif sepuluh persen mulai Februari yang akan naik menjadi dua puluh lima persen pada Juni terhadap delapan negara Eropa termasuk Jerman.
Kebijakan tarif tersebut diumumkan sebagai respons atas sikap negara-negara Eropa yang menyebut latihan militer NATO di Greenland bersifat simbolis di tengah ketegangan yang dipicu oleh pendekatan keras AS.
Presiden Perancis Emmanuel Macron menyebut ancaman tarif tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.
Seorang sumber dekat dengan Macron menyatakan bahwa pada Minggu Presiden Perancis akan meminta aktivasi instrumen anti-pemaksaan Uni Eropa sebagai alat pembalasan paling kuat yang dimiliki blok tersebut terhadap kebijakan tarif baru dari AS.
Editor: 91224 R-ID Elok

