Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Anggota DPR Soroti Pengeroyokan Guru di Jambi sebagai Cermin Krisis Adab

 Viral Guru Dikeroyok Siswa Di Jambi, DPR: Krisis Adab Di Sekolah | Majalah  GPriority

Repelita Jakarta - Seorang anggota parlemen memberikan pandangannya terkait insiden kekerasan yang menimpa seorang guru di Provinsi Jambi.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Ratih Megasari Singkarru menyoroti peristiwa pengeroyokan tersebut sebagai cermin bagi dunia pendidikan.

Ratih menyatakan bahwa kasus itu seharusnya tidak disikapi dengan upaya mencari pihak mana yang paling bertanggung jawab atau paling bersalah.

Menurutnya, lebih penting untuk melihat peristiwa tersebut sebagai bahan refleksi bersama bagi semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan.

“Kasus pengeroyokan guru di Jambi adalah tamparan keras sekaligus cermin bagi dunia pendidikan kita. Daripada sibuk mencari kambing hitam, lebih bijak jika kita melihat akar masalahnya secara jernih sebagai bahan introspeksi bersama,” ujar Ratih kepada wartawan, Jumat, 17 Januari 2026.

Video yang merekam kejadian itu telah tersebar luas di berbagai platform media sosial dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat.

Insiden tersebut menunjukkan dinamika hubungan antara guru dan siswa yang sedang tidak berada dalam kondisi yang ideal.

Ratih mengakui bahwa para pendidik saat ini menghadapi kesulitan dalam menegakkan kedisiplinan tanpa menggunakan cara-cara yang bersifat kekerasan.

Di sisi lain, respon sekelompok siswa yang melakukan pengeroyokan menunjukkan adanya persoalan karakter yang perlu mendapat perhatian serius.

“Respons siswa yang membalas rasa tersinggung dengan pengeroyokan massal mencerminkan krisis adab yang parah. Solidaritas antarteman telah salah arah dan berubah menjadi tindakan premanisme yang sama sekali tidak bisa dibenarkan,” tegasnya.

Legislator tersebut juga menyampaikan penilaiannya mengenai anggapan yang menyalahkan kurikulum tertentu atas terjadinya insiden tersebut.

Dia menegaskan bahwa tidak ada satupun kebijakan atau dokumen pendidikan yang memberikan pembenaran atas tindak kekerasan.

“Dokumen pendidikan mana pun tidak pernah mengajarkan kekerasan. Masalah sesungguhnya terletak pada implementasi di lapangan,” ujarnya.

Ratih menilai bahwa dunia pendidikan nasional sedang berada dalam sebuah fase transisi menuju paradigma yang lebih manusiawi.

Para guru masih dalam proses mencari pola yang tepat untuk mendisiplinkan peserta didik dengan cara-cara yang edukatif dan non-kekerasan.

Sementara itu para siswa juga perlu belajar tentang tanggung jawab yang menyertai kebebasan berekspresi yang mereka miliki di era sekarang.

Dia menekankan bahwa fokus utama harus dikembalikan kepada esensi pendidikan sebagai sebuah proses memanusiakan manusia.

Upaya saling menyalahkan antar pihak harus diakhiri dan digantikan dengan upaya memperbaiki komunikasi di lingkungan sekolah.

Penguatan karakter bagi seluruh warga sekolah menjadi hal yang sangat mendesak untuk segera dilakukan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks semakin banyaknya kasus kekerasan yang melibatkan pelajar dan tenaga pendidik.

Ratih berharap insiden di Jambi dapat menjadi momentum perbaikan bagi sistem pendidikan secara keseluruhan.

Dialog konstruktif antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat dinilai sangat penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved