
Repelita Jakarta - Pengamat politik Made Supriatma menyoroti gaya pidato Joko Widodo dalam Rakernas PSI yang dinilai berbeda dari kebiasaan selama ini. Biasanya, Jokowi dikenal dengan gaya pidato yang tenang dan terjaga, dengan suara yang tidak meninggi serta ekspresi wajah yang cenderung datar tanpa menunjukkan emosi yang jelas.
Banyak pihak menghubungkan gaya khas Jokowi tersebut dengan latar belakang budayanya sebagai orang Jawa dari pusat kebudayaan Mataram Islam di Solo. Indonesia memiliki dua presiden yang berasal dari kawasan ini, yaitu Soeharto dengan senyum khasnya yang sulit ditebak dan Jokowi dengan kesan datar yang justru mampu menyerap berbagai tekanan.
Jokowi sering kali merespons berbagai kritik dan ejekan dengan ungkapan khas Jawa "aku rapopo" yang menyembunyikan rasa sakit hati di balik semiotika elegan. Namun, dalam pidatonya di Makassar, Made Supriatma mengamati adanya kilatan kemarahan dan dendam yang terlihat jelas dari sorot mata Jokowi, sesuatu yang jarang terlihat sebelumnya.
Jokowi menyatakan komitmennya untuk bekerja keras dan mati-matian demi Partai Solidaritas Indonesia, dengan janji akan berkeliling hingga ke tingkat kecamatan. Namun, Made Supriatma mempertanyakan posisi formal Jokowi di partai tersebut, karena dia tidak tercatat dalam struktur kepengurusan, dewan pembina, penasihat, maupun pengawas.
Secara formal, Jokowi hanyalah ayah dari Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep, yang menjadi ketua hanya dua hari setelah menjadi anggota partai. Pengaruh Jokowi terhadap PSI dipertanyakan, termasuk kemampuannya untuk mengangkat partai tersebut menjadi besar dengan ideologi Jokowisme yang belum terdefinisi dengan jelas.
Made Supriatma juga melihat bahwa Jokowi mungkin masih memiliki sisa-sisa kekuatan dan pengikut, namun dinamika politik telah berubah dimana banyak aktor politik yang lebih pragmatis. Dia mencontohkan bagaimana program-program pemerintahan Prabowo seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih telah menciptakan redistribusi sumber daya.
Program-program tersebut dinilai lebih menguntungkan kalangan tertentu sementara pelaksanaannya di lapangan sering menimbulkan ketegangan, seperti konversi lapangan sepak bola menjadi bangunan koperasi. Menurut analisisnya, Jokowi berada dalam posisi yang unik: tidak disingkirkan namun juga tidak sepenuhnya terintegrasi dalam kekuasaan saat ini.
Prabowo dan lingkaran dalamnya dinilai cukup cerdas dengan tetap merangkul Jokowi karena menyadari bahwa Jokowi justru bisa menjadi lebih kuat jika dihadapkan dengan konfrontasi langsung. Situasi ini menempatkan Jokowi dalam posisi yang kompleks di peta politik Indonesia saat ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

