
Repelita Aceh - Video konvoi puluhan truk bermuatan kelapa sawit melintas di jalanan Aceh yang masih dipenuhi lumpur pascabanjir bandang menjadi viral di Instagram @jakarta.keras pada Jumat, 12 Desember 2025.
Rekaman itu memperlihatkan deretan truk berat membawa tandan buah segar beriringan, sementara warga masih berjuang membersihkan rumah dan jalanan dari endapan lumpur tebal.
Unggahan tersebut langsung memicu kemarahan netizen yang menilai aktivitas perkebunan sawit tetap berjalan lancar meski ribuan warga kehilangan tempat tinggal.
Rumah kami masih berlumpur, bisnis kalian tetap berjalan.
Kemarahan itu juga mengarah pada oknum pemilik konsesi ratusan ribu hektare yang diduga menjadi penyebab utama hilangnya area resapan air sehingga memperparah banjir bandang.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan segera mencabut seluruh izin usaha kehutanan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
WALHI mendesak Kementerian Kehutanan segera mencabut seluruh perizinan berusaha sektor kehutanan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Data WALHI menyebut perusahaan legal dan ilegal telah merusak hutan serta daerah aliran sungai seluas 889.125 hektare di tiga provinsi tersebut.
Khusus di Aceh, 5.208 hektare kawasan hutan telah beralih fungsi menjadi kebun sawit oleh 14 perusahaan di tujuh kabupaten.
Akibatnya, 954 daerah aliran sungai rusak, 60 persen di antaranya berada di wilayah hutan Aceh.
WALHI menegaskan bahwa penegakan hukum tegas sejak dulu bisa mencegah bencana sebesar ini.
Jika aktivitas ilegal ini sejak dulu ditindak tegas, dampak besar seperti saat ini mungkin tidak terjadi.
Organisasi itu juga mencatat sedikitnya 13 perusahaan di sektor kehutanan, pertambangan, dan perkebunan diduga bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang memicu bencana berulang di Sumatera.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

