Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menegaskan bahwa kebohongan Bahlil kepada presiden dan rakyat Aceh telah mencoreng wibawa kabinet yang baru berjalan beberapa bulan.
Pada 7 Desember 2025 di Bireuen, saat Presiden Prabowo bertanya langsung tentang perkembangan kelistrikan, Bahlil dengan tegas menjawab bahwa malam itu seluruh Aceh akan menyala hingga 93 persen.
Fakta di lapangan menunjukkan janji tersebut tidak terpenuhi hingga berhari-hari kemudian, sehingga memicu kekecewaan luas di kalangan masyarakat terdampak.
Dalam pernyataannya pada Kamis, 11 Desember 2025, Jamiluddin Ritonga menyatakan bahwa tindakan Bahlil telah melanggar etika dasar pejabat publik dan secara moral membuatnya tidak lagi layak memimpin Kementerian ESDM.
Secara moral seharusnya Bahlil mundur sebagai menteri ESDM. Hal semacam ini memang berlaku di negara yang sudah mengedepankan etika dalam bersikap dan bertindak.
Jika Bahlil tidak memiliki inisiatif mengundurkan diri, Jamiluddin mendorong Presiden Prabowo untuk segera mencopotnya melalui reshuffle kabinet.
Keberadaan menteri yang kehilangan integritas hanya akan terus mempermalukan presiden di hadapan rakyat yang sedang berjuang melawan dampak bencana.
Masyarakat kini menanti ketegasan Presiden Prabowo untuk membersihkan kabinet dari figur yang dinilai tidak kredibel dan cenderung mengedepankan laporan kosong demi kepuasan atasan.
Kasus ini menjadi ujian pertama bagi komitmen pemerintahan baru dalam menegakkan prinsip kejujuran dan akuntabilitas di tingkat tertinggi eksekutif.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

