Repelita Jakarta - Konsultan hukum ET Hadi Saputra menyampaikan kritik keras terhadap klaim adanya aksi sabotase dengan melepas baut pada jembatan bailey di wilayah terdampak bencana Sumatera.
Pernyataannya yang diposting di akun X @ethadisaputra pada 29 Desember 2025 menyoroti ketidaklogisan narasi tersebut di saat masyarakat sedang berduka atas musibah alam.
Politik Baut dan Hilangnya Nalar
Di tengah duka bencana yang menyapu Sumatera, kita justru disuguhi drama baru: sabotase baut. KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak meradang. Beliau menyebut ada tangan-tangan "biadab" yang sengaja melepas baut jembatan bailey.
Namun, mari kita bedah narasi ini dengan sedikit common sense yang masih tersisa. Ada tiga lubang besar dalam cerita ini:
1. Kejahatan Tanpa Alamat
Jenderal Maruli menyebut niat pelaku "luar biasa".
Tapi anehnya, lokasi persisnya dirahasiakan.
Bagaimana mungkin sebuah sabotase terhadap obyek strategis nasional dilaporkan ke publik namun Tempat Kejadian Perkaranya (TKP) menjadi misteri?
Tanpa transparansi lokasi, narasi ini hanya akan menjadi rumor yang dipaksakan menjadi fakta.
2. Ramalan "Sakti" Seskab
Seskab Teddy Indra Wijaya diklaim sudah mewanti-wanti potensi sabotase ini. Luar biasa.
Jika intelijen kita sudah se-presisi itu mencium aroma hilangnya baut di tengah kekacauan bencana, mengapa sabotase itu tetap terjadi?
Apakah peringatan itu hanya untuk bahan konferensi pers, bukan untuk pencegahan?
3. Logika Sabotase yang Absurd
Sabotase itu punya target politik atau militer. Menghancurkan jembatan di daerah bencana adalah strategi paling bodoh; pelakunya otomatis menjadi musuh rakyat, bukan pahlawan oposisi.
Jauh lebih masuk akal jika "sabotase" ini hanyalah kambing hitam untuk menutupi kelalaian teknis, pencurian material oleh oknum kecil, atau buruknya quality control.
Kesimpulan kita sederhana: Rakyat di pengungsian butuh jembatan yang kokoh, bukan dongeng sabotase yang teatrikal. Jangan sampai demi sebuah panggung pencitraan, nalar publiklah yang sengaja "dilepas" bautnya hingga goyah dan runtuh.
Hadi menilai bahwa penjelasan resmi dari KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak mengandung banyak celah yang sulit diterima secara rasional.
Ia memaparkan tiga poin utama yang menjadi sumber keraguan terhadap versi sabotase tersebut.
Pertama, ketidakjelasan mengenai lokasi pasti kejadian yang justru disembunyikan meskipun sudah diumumkan secara terbuka sebagai tindakan kriminal terhadap infrastruktur vital.
Kedua, adanya peringatan awal dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang seharusnya mampu mencegah jika benar-benar akurat, namun malah gagal menghentikan insiden.
Ketiga, ketidakmasukakalan motif sabotase karena merusak akses di zona bencana hanya akan merugikan rakyat biasa tanpa keuntungan strategis bagi pihak mana pun.
Menurutnya, kemungkinan lain seperti kesalahan pengerjaan, pengawasan lemah, atau pencurian kecil lebih plausibel daripada skenario sabotase yang terdengar berlebihan.
Hadi menekankan bahwa korban bencana membutuhkan bantuan konkret berupa infrastruktur aman, bukan cerita dramatis yang berpotensi mengaburkan fakta sebenarnya.
Editor: 91224 R-ID Elok

