Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

[HEBOH] Unggahan Putra Menkeu soal Natal dan Tahun Baru Haram Picu Polemik Toleransi di Media Sosial

 

Repelita Jakarta - Putra Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Yudo Sadewa, kembali mencuri perhatian masyarakat setelah serangkaian unggahan di Instagram Story miliknya menjadi bahan pembicaraan luas di jagat maya.

Konten tersebut berisi pandangan bahwa merayakan Natal serta tahun baru merupakan perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam.

Pernyataan itu langsung menyebar cepat di berbagai platform daring dan memunculkan berbagai tanggapan dari netizen.

Beberapa balasan bahkan berasal dari pengikut langsung akun Yudo yang menganggap isi unggahan berisiko menimbulkan perdebatan yang tidak perlu.

Yudo kemudian memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai maksud dari kata “merayakan” yang digunakannya.

“‘Merayakan’ konteks di sini artinya kalian ikut dalam upacara atau ibadah agama lain. Kalau hanya sekadar mengucapkan selamat, itu tentu dibolehkan karena bentuk toleransi,” tulis Yudo dalam salah satu Instagram Story-nya.

Ia turut menyertakan acuan dari kitab suci Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Baqarah ayat 43, untuk mendukung argumennya.

Lebih lanjut, Yudo menyatakan bahwa tradisi pergantian tahun baru berakar dari ajaran Zoroaster atau yang dikenal sebagai Majusi.

“Oh iya guys, merayakan tahun baru itu haram ya. Itu perayaan agama Zoroaster (Majusi). Sama seperti Natal, kalian hanya boleh mengucapkan selamat saja, tidak boleh merayakan,” tulisnya.

Unggahan tersebut langsung memanaskan suasana diskusi di bagian respons story.

Banyak pengguna internet yang mempersoalkan apakah pernyataan semacam itu sesuai dengan realitas masyarakat Indonesia yang beragam secara budaya dan agama.

Reaksi dari warganet terpecah menjadi dua kubu utama.

Sebagian menyampaikan apresiasi dan menganggap konten tersebut sebagai bentuk penguatan pemahaman keagamaan.

Sementara itu, kelompok lain memberikan kritik keras serta mengingatkan akan nilai penting menjaga kerukunan antar pemeluk agama.

“Jangan coba-coba memecah belah Indonesia. Di sini ada lima agama yang harus saling menghormati,” tulis salah satu warganet dalam balasan unggahan.

Pengguna lain menambahkan pandangan bahwa perayaan tersebut bersifat pribadi sesuai keyakinan masing-masing individu.

“Agama Majusi setahu saya tidak ada di Indonesia. Itu konteksnya khusus Islam saja, yang lain boleh merayakan,” tulis warganet lainnya.

Dalam postingan berikutnya, Yudo mengakui bahwa ia sempat menarik kembali salah satu kontennya karena kekhawatiran akan timbulnya penafsiran yang keliru.

Hingga saat ini, topik tersebut terus menjadi bahan perdebatan dan melengkapi rentetan isu yang bermula dari aktivitas media sosial tokoh publik.

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved