
Repelita Jakarta - Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menekankan perlunya kehati-hatian ekstrem dalam penggunaan kata sabotase oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak ketika membahas situasi bencana.
Menurutnya, pilihan diksi tersebut tidak bersifat netral dan dapat menciptakan kerangka pemikiran tentang ancaman yang salah arah di tengah kondisi krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Berdasarkan definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sabotase berarti tindakan perusakan yang dilakukan secara sengaja terhadap kepentingan nasional.
Dalam ranah politik, istilah ini sering dikaitkan dengan kegiatan musuh negara atau upaya pemberontakan dari dalam.
"Maka ketika kata ini diucapkan oleh pejabat militer aktif di ruang publik, ia tidak lagi netral, melainkan membentuk framing ancaman,” kata Connie pada 31 Desember 2025.
Ia menggarisbawahi bahwa musibah alam bukanlah arena yang tepat untuk membangun narasi keamanan secara berlebihan.
Pendekatan yang dibutuhkan dalam keadaan darurat justru berfokus pada aspek kemanusiaan dengan respons yang cepat, akurat, serta penuh empati terhadap korban.
"Jika bencana adalah perang sesungguhnya, maka perang itu bukan melawan “penyabot”, melainkan melawan waktu, alam, dan penderitaan rakyat. Kerusakan, kegagalan teknis, atau keterlambatan dalam kondisi darurat adalah hal yang bisa terjadi di lapangan yang ekstrem,” ujarnya.
Connie juga menyampaikan kekhawatiran bahwa pemakaian istilah tersebut berisiko menghidupkan kembali narasi sensitif masa lalu, termasuk simbol seperti bendera bulan bintang yang masih dianggap oleh sebagian pihak sebagai lambang kelompok pemberontak.
“Karena itu, bahasa pejabat negara setingkat Jendral harus dikelola dengan kecermatan tinggi,” tegas Connie.
Ia kemudian membandingkan dengan teladan kepemimpinan Panglima Besar Jenderal Sudirman dalam menghadapi krisis.
Kepemimpinan sejati, menurutnya, diukur dari komitmen moral penuh serta keberpihakan mutlak kepada kepentingan rakyat.
“Bagi Jendral seperti Panglima Sudirman, perang dimenangkan oleh kepemimpinan moral dan keberpihakan total pada rakyat, bukan oleh narasi tudingan di tengah krisis kemanusiaan,” ucapnya.
Connie menambahkan bahwa bahasa yang digunakan oleh aparatur negara dalam konteks bencana seharusnya bersifat menenangkan hati, mempersatukan seluruh elemen bangsa, serta mendorong koordinasi antarlembaga secara efektif.
“Harusnya KASAD paham ketegasan negara dalam bencana diukur dari kerja, bukan dari kata-kata. Rakyat tidak membutuhkan istilah yang keras, tetapi kehadiran negara yang nyata, cepat, dan berpihak,” jelasnya.
Sebelumnya, dalam konferensi pers yang digelar di Lapangan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta pada 29 Desember 2025, KSAD Maruli Simanjuntak menyatakan kecaman keras terhadap aksi pembongkaran baut pada jembatan bailey di Sumatera yang diduga dilakukan secara sengaja.
“Dalam kondisi kompak pun, ini masih ada orang yang berusaha mensabotase jembatan bailey kita. Dua hari yang lalu baut-bautnya dibongkar. Kami juga tidak menyangka ada orang sebiadab ini,” ujarnya KSAD.
Ia menyatakan keprihatinan mendalam atas dampak tindakan tersebut terhadap keselamatan warga serta menegaskan bahwa bukti-bukti terkait telah terdokumentasi dengan baik.
Editor: 91224 R-ID Elok

