:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/Hakim-MK-Arief-Hidayat-1.jpg)
Repelita Jakarta - Hakim Konstitusi Arief Hidayat menyampaikan pandangan kritis mengenai pengelolaan sumber daya negara dalam sebuah acara di Auditorium Perpustakaan Nasional.
Kegiatan tersebut merupakan peluncuran buku sekaligus talkshow bertajuk Literasi Konstitusi Tahun 2025 yang digelar Mahkamah Konstitusi bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Dalam sambutannya, Arief Hidayat menekankan paradoks yang dihadapi bangsa ini meskipun diberkahi kekayaan alam berlimpah serta paparan sinar matahari sepanjang tahun.
Namun, realitas menunjukkan masih adanya masalah kemiskinan serta kesenjangan ekonomi yang cukup mencolok.
Ia mempertanyakan mengapa negara dengan potensi alam luar biasa seperti Indonesia justru menghadapi keterbatasan dalam mencapai kesejahteraan merata.
Arief Hidayat juga menyoroti beban utang negara yang secara tidak langsung dipikul setiap warga sejak lahir.
Berdasarkan data terkini per akhir September 2025, total utang pemerintah mencapai sekitar Rp9.408 triliun.
Dengan populasi sekitar 286,69 juta jiwa, maka secara per kapita setiap individu termasuk bayi baru lahir menanggung beban sekitar Rp32 juta.
Sebaliknya, ia membandingkan dengan Norwegia yang mengelola pendapatan dari minyak dan gas melalui dana abadi bernama Government Pension Fund Global.
Dana tersebut hingga akhir kuartal ketiga 2025 bernilai lebih dari US$2 triliun atau setara dengan ratusan ribu dolar per warga.
Dengan populasi sekitar 5,6 juta jiwa, kekayaan per kapita dari dana itu mencapai lebih dari US$340.000.
Dana abadi Norwegia diinvestasikan secara global untuk mendukung layanan publik serta kesejahteraan generasi mendatang tanpa dibagikan tunai langsung.
Menurut Arief Hidayat, perbedaan mencolok ini disebabkan oleh faktor pengelolaan negara yang kurang optimal.
Ia menegaskan bahwa kemiskinan serta ketertinggalan lebih banyak berasal dari kesalahan dalam tata kelola daripada kekurangan sumber daya alam itu sendiri.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

